Dikatakannya, jika kita menghadapinya bersama-sama, kita akan lebih kuat dan semakin diperhitungkan oleh kekuatan global. Dan kita akan terus berdialog tentang bagaimana mewujudkan iklim bermedia yang kondusif bagi cita-cita demokrasi dan kemanusiaan.
“Yang tak kalah penting, bagaimana terus melindungi profesi wartawan dari kemungkinan ancaman dari mana pun. Sebagamana diketahui bersama, belakangan ini, para wartawan dihadapkan pada jenis ancaman baru: doxing, bullying, hacking. Perlu langkah-langkah antisipasi agar ancaman jenis baru ini tidak semakin membesar dan sistemik. Solidaritas ASEAN mesti menjadi perhatian kita semua,” tegas Atal.
Maka Atal berharap kita bisa melaksanakan Fellowship Jurnslisme ASEAN. Melalui program ini, kita dorong para wartawan di negara kita masing-masing menekankan pentingnya semangat persaudaraan dan kemitraan ASEAN dalam pemberitaan mereka.
“Kita pilih tiga wartawan dari masing-masing negara, lalu kita beri kesempatan mereka untuk mengunjungi salah-satu negara ASEAN selama 1 bulan. Mereka melakukan internship ke salah-satu media nasional di negara tujuan, dan memiliki tanggung-jawab untuk secara rutin menulis tentang negara tujuan tersebut, tentu dengan perspektif solidaritas ASEAN,” kata Atal.
Ditambahkannya, hasil karya mereka lalu kita lombakan untuk memilih lima karya terbaik untuk diberikan penghargaan. Ini salah satu usulan kami, tentu dibutuhkan usulan-usulan yang lebih baik.
“Sekali lagi, mari berkegiatan bersama-sama, mari membangun ASEAN Community di bidang pers yang produktif dan inovatif,” tandas Atal S Depari dengan lantang.
Sidang Umum Konfederasi Wartawan Asean yang dilaksanakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia ini didukung sepenuhnya oleh, Bank Indonesia, Pertamina, Artha Graha Peduli, Artha Graha Network, BTN, PLN, PT Inalum/MIND ID dan Bank Mandiri.Humas PWI Pusat
Editor: Manaf Rachman
















