Kondisi sekitar 10 tahun lalu itu kini berubah atau berbeda. Bukan lagi media entertainmen yang menjadi raja dari segala gossip tetapi media siber dan media sosial yang dimirip-miripkan media massa. Saya sebut dimirip-miripkan karena memang cara memberitakan tidak mencerminkan sifat media massa yang paling dasar, berimbang, konfirmasi, tidak beropini sendiri.
Membaca media siber ini ya seperti membaca press release sebenarnya karena beritanya satu arah. Ada orang kirim pendapatnya tentang satu hal, dimuat. Lalu muncul pendapat dari arah lain muat lagi. Sekali menuding satu pihak, berikutnya menuding pihak lain. Ada yang bilang media begini seperti keranjang sampah, apa saja informasi ditampung lalu dimuntahkan. Tidak ada upaya mendudukkan persoalan, menyeimbangkan informasi, malahan menambah rumit agar audiensnya penasaran dan mengklik terus.
Ciri berikutnya tentu saja judul yang mencolok atau menohok atau apalah, silakan simpulkan. Saya jadi teringat dosen saya dulu di mata kuliah Komposisi, Gorys Keraf, yang setiap saat mengingatkan istilah “kata kunci”. Artinya di setiap kalimat ada kata kunci, inti dari kalimat itu, yang berguna untuk memahami apa pesan yang ingin disampaikan.
Sementara di media mirip media massa di atas, kata kuncinya adalah kata yang paling mudah untuk menjadi ghibah. Menjadi gossip, agar segera disantap audiens yang memang sudah lapar untuk membaca kabar “miring”. Padahal asupan informasi seperti itu sebenarnya memberi dampak negatif bagi si audiens. Ibaratnya, kalau biasa makan makanan busuk, sudah tidak enak menyantap makanan segar atau higenis.
Mengerikan.
Lebih miris lagi, masyarakat yang kurang bisa membedakan media massa dan media mirip media massa, akan menyimpulkan begitulah wajah pers di Indonesia. Tidak ada bedanya dengan media sosial. Lama-lama tingkat kepercayaan akan merosot, meski media berkualitas berjuang mati-matian untuk bertahan di tengah himpitan pendapatan berkurang, biaya operasional naik, dan generasi muda kian menjauhi media konvensional. ***
Media sosial di bulan Ramadhan berjalan sebagaimana biasanya. Bussiness as usual. Sumpah serapah, cari maki, kata-kata kotor, masih hadir, khususnya mereka yang menjadikan medsos sebagai lahan cari makan atau cari identitas diri. Walau di sisi lain, asupan rohani yang sejuk, mengingatkan agar berbuat baik, yang mengetuk hati untuk membantu sesama, juga gencar di berbagai platform. Ibarat lalu lintas, mirip jalan tol. Ada yang setia di jalurnya meski macet, ada yang ambil jalur haram atau menggunakan lampu berkilau-kilau, strobo, karena merasa dirinya paling berhak untuk cepat.
Sebagaimana pernah dilontarkan wartawan dan sastrawan Mochtar Lubis, kita ini memang bangsa munafik. Tahu apa yang benar, tahu aturan, mengritik orang yang melanggar aturan yang ada, tetapi kita sendiri melanggarnya juga. Di rumah, di depan tetangga, bertampang saleh. Di jalan raya, di media sosial menjadi manusia garang yang bertindak sesukanya.
Posisi sebagai wartawan membuat kita sulit. Memproduksi berita yang sesuai kode etik jurnalistik saja masih berpotensi ghibah, artinya kita harus serba awas, super hati-hati agar informasi yang kita ingin sampaikan dalam bentuk berita, aman dunia akhirat. Ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengecilkan hati wartawan muda, yang bersemangat melakukan kontrol sosial, menghantam korupsi dan penyalahgunaan jabatan, menghajar nepotisme, menghajar pejabat yang tamak dst. Tetapi untuk mengingat bahwa profesi wartawan itu mulia, yang hasil kerjanya bisa dipertanggung-jawabkan lahir dan batin, perlu terus mengasah diri agar makin terampil.
Tentu tidak mudah. Mumpung masih Ramadhan, ada baiknya kita sesekali refleksi diri, untuk menemukan titik temu hati nurani dan profesionalisme, kedudukan sebagai makhlukNya yang tunduk dan tuntutan pekerjaan yang duniawi. Merenung itu penting dan perlu.
Wallahu a’lam bhisawab.
Ciputat 13 April 2023
















