Kau berada di tempat banyak orang kepingin menikmatinya, walau kau anggap itu biasa saja. Kau pikir kursimu itu biasa. Bagi orang lain itu kursi emas. Bahkan tangga untuk naik keposisi lain. Kau ternyata sudah ada di pucuk. Di atas rata-rata kebanyakan orang. Dan bagi sebagian orang, itu adalah kemewahan luar biasa. Kuasa luar biasa. Bahkan popularitas luar biasa.
Tidak sedikit yang ingin kau perhatikan, kau hormati, karena telah ikut membantu kau berada di sana. Berjasa kepadamu. Tidak bisa kau anggap mereka tidak ada. Mereka eksis dan juga ingin menikmati apa yang kau capai. Terima kasih saja tidak cukup. Mungkin kau kurang membungkuk.
Kurang mendekapkan tangan. Kau kurang merendahkan diri. Maka seharusnya kau sudah tahu risikonya. Benih-benih kebencian itu secara pelahan membesar dan membesar.
Orang yang ingin duduk di kursi itu, tidak peduli kapasistasnya. Dunia ini dipenuhi orang-orang yang tidak tahu ukuran bajunya. Yang tidak mengerti ukuran sepatunya. Yang tidak mengerti ukuran kursi yang semestinya dia tempati.
Di dunia yang semakin bising dengan bisikan setan karena besarnya godaan materi, yang kian tidak jelas siapa yang ahli dan siapa yang bermodal mulut saja. Yang hanya mencatut kalimat di dalam aturan sesuai kepentingannya dan merasa menguasai masalahnya. Dan bersikeras untuk mempertahankannya. Kau mestinya tahu dan tidak menganggap ini dunia kanak-kanak yang semua tahu diri, tahu posisi, dan saling membantu dalam kebaikan.
Kata Sapardi Djoko Damono ketika sempat berkunjung ke New York di masa mudanya, dunia kita adalah dunia baja. Bukan hanya karena gedung-gedung tinggi yang berdiri angkuh. Tetapi juga karena bangunan itu bagaikan mahluk yang menepuk dada, merasa besar, unggul, sampai nanti ada yang lebih tinggi di sebelahnya. Dunia baja, dunia yang keras dan tidak kenal ampun, meski di New York sana ada taman Central yang hijau dan ramah, tempatmu bisa berteduh, berolahraga, dan menarik nafas untuk menenangkan hati. *
Kau tidak harus menjadi baja. Karena kau adalah manusia. Yang dididik tahu diri, selalu bersyukur, menghormati siapun, dan berterima kasih karena telah diberikan nikmat yang begitu banyak. Tetaplah menjadi orang yang jalan sambil menundukkan kepala. Tetaplah tersenyum ketika menyapa. Tetaplah merasa biasa. Sejajar dengan teman-teman yang duduk semeja, sepekerjaan, kolega. Karena kemulian itu tidak ditentukan status tetapi ketakwaan kepadaNya.
Memang tidak perlu ada yang disombongkan. Karena kita tidak tahu nyawa ini diberi Tuhan sampai kapan. Tidak tahu sampai kapan bisa bernafas. Kalau besok nyawa kita dicabut dan disuruh pulang, sementara begitu banyak yang hatinya kau sakiti dan tidak sempat meminta maaf, sia-sia semua yang kau buat. Ibadah-ibadahmu jadi percuma, zikir tengah malammu tidak lagi bermanfaat, sedekah subuhmu sia-sia. Mau begitu? Tentu tidak. Lurus saja.
Yang menjadi persoalan adalah kita tidak sabar dan selalu ingin mendapat jawaban yang cepat. Ingin tahu bagaimana akhir dari skenario hidup yang diberikan Sang Pencipta. Ingin semua jelas terbentang di depan mata. Agar tidak cemas, tidak khawatir. Apalagi ketika kita merasa beban tiba-tiba berat, lupa pada kalimat “la yukallifullahu nafsan illa wus’aha”, tidak akan pernah manusia diujiNya bila seseorang itu tidak mampu menjalaninya. Sabar saja. Semua akan indah pada waktunya.
Menuju Ramadhan yang mulia, tentu kau harus introspeksi. Men-delete kekurangan. Minta maad kepada diri sendiri dan orang-orang dekat. Memperbaiki diri. Meneguhkan pikiran dan akal sehat ke arah yang lebih baik. Kita sadar bahwa ternyata apa yang kita lakukan, jalankan, kerjakan, pikirkan, perbincangkan, setelah 1 Syawal lalu hampir seluruhnya urusan dunia. Kita sibuk. Kita terpukau pada hal-hal remeh temeh. Malulah pada diri sendiri dan padaNya. Ayo mohon ampun pada Dia yang telah menciptakanmu untuk menjadi makhluk yang mengabdi padaNya.
Wallahu a’lam bhisawab.
Ciputat 23 Februari 2025.(*)
















