Pemuda hari ini tidak kekurangan ide. Kita punya banyak gagasan segar, dari pengembangan ekonomi kreatif hingga inovasi sosial berbasis desa. Tapi ide-ide itu sering kehilangan arah karena minim dukungan dan pendampingan. Di sinilah pentingnya kolaborasi, sebab pemuda memiliki imajinasi dan energi, sementara pemerintah memiliki power dan instrumen kebijakan. Bila keduanya tidak bertemu, yang lahir hanyalah kekecewaan baru.
Muda Milenial Maradeka seharusnya tidak berhenti pada janji politik. Ia harus menjadi ruang hidup, tempat di mana pemuda Wajo merasa punya masa depan di tanah kelahirannya. Pemerintah perlu membuka pintu selebar-lebarnya bagi partisipasi anak muda, bukan sekadar menjadikan mereka pelengkap seremonial atau penonton program pembangunan.
Menjadi pemuda hari ini berarti berani berpikir kritis tanpa kehilangan semangat kolaboratif. Bergerak bukan untuk menantang kekuasaan, tetapi memastikan bahwa kekuasaan bekerja bagi kepentingan rakyat, terutama generasi penerus.
Kita boleh bermimpi tentang Indonesia Emas, tetapi sebelum itu kita harus berani mengakui Indonesia Cemas. Realitas ketimpangan, pengangguran, dan keterasingan anak muda dari kebijakan publik. Mengakui kecemasan bukan tanda pesimismeadalah langkah paling jujur untuk membangun harapan yang baru.
Dua puluh tahun menuju 2045 bukan waktu yang lama. Jika ruang dialog seperti obrolan di kafe kala itu mampu menjadi ruang kolaborasi nyata antara pemuda dan pemerintah, maka cahaya Indonesia Emas akan menyala dari Kabupaten Wajo. Bukan dari janji, tetapi dari kerja dan kesadaran bersama.(**)
















