Sementara itu, Kementerian Transportasi Rusia menginformasikan bahwa maskapai penerbangan Rusia menghentikan sementara penerbangan menuju Iran dan Israel. Beberapa maskapai internasional lain yang turut membatalkan penerbangan ke kawasan tersebut antara lain Aegean Airlines, Air Algerie, Air France, Air India, British Airways, Cathay Pacific, Finnair, Iberia, Indigo, Japan Airlines, KLM, Lufthansa, Norwegian, Pakistan International Airlines, Scandinavian Airlines, Swiss International Air Lines, Turkish Airlines, Virgin Atlantic, serta Wizz Air.
Lembaga pemantau penerbangan Cirium mencatat sekitar 24 persen penerbangan menuju Timur Tengah dibatalkan pada Sabtu. Bahkan sekitar setengah dari jadwal penerbangan menuju Qatar dan Israel dibatalkan, sementara sekitar 28 persen penerbangan ke Kuwait juga terdampak. Eric Schouten, penasihat keamanan penerbangan dari Dyami, menyebutkan bahwa penutupan wilayah udara di kawasan tersebut berpotensi berlangsung cukup lama. Menurutnya, dampak konflik terhadap penerbangan regional terjadi dengan cepat dan situasinya sangat dinamis.
Turkish Airlines juga mengumumkan pembatalan penerbangan menuju Lebanon, Suriah, Irak, Iran, dan Yordania hingga 2 Maret 2026 akibat penutupan wilayah udara setelah serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran. Selain itu, maskapai tersebut juga membatalkan penerbangan menuju Qatar, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Oman yang dijadwalkan pada 28 Februari 2026. Wakil Presiden Senior Komunikasi Turkish Airlines, Yahya Ustun, melalui media sosial X menyampaikan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan situasi dan kemungkinan pembatalan tambahan masih dapat terjadi.
Maskapai bertarif rendah Turki, AJet, juga mengumumkan pembatalan penerbangan ke Iran, Irak, Suriah, dan Lebanon hingga 2 Maret, serta pembatalan penerbangan menuju Uni Emirat Arab pada 28 Februari akibat penutupan wilayah udara beberapa negara di kawasan tersebut. Hal serupa juga dilakukan oleh maskapai Pegasus yang membatalkan penerbangan menuju Iran, Irak, Yordania, dan Lebanon hingga 2 Maret. Selain itu, penerbangan menuju Uni Emirat Arab, Kuwait, Oman, Pakistan, Qatar, Bahrain, serta ibu kota Arab Saudi, Riyadh, untuk tanggal 28 Februari juga dihentikan sementara.
Maskapai-maskapai tersebut menyatakan akan terus memantau perkembangan situasi keamanan di kawasan Timur Tengah, dan tidak menutup kemungkinan adanya pembatalan penerbangan tambahan jika kondisi belum stabil. Pembatasan penerbangan secara luas ini terjadi setelah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan tersebut menyusul serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran. (r)
















