Pria yang akrab disapa Appi itu menekankan, bahwa kualitas bacaan tetap menjadi syarat utama seorang imam. Namun, ia mengingatkan bahwa penunjukan imam tidak boleh hanya didasarkan pada faktor usia atau latar belakang tertentu, melainkan harus mengedepankan kompetensi.
“Imam itu bukan karena siapa yang paling tua atau karena faktor lain, tetapi karena kemampuan bacaannya yang baik dan benar,” saran Appi.
Kegiatan ini juga menghadirkan narasumber kompeten di bidangnya. Kehadiran para pemateri ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang komprehensif kepada para peserta, baik dari sisi teori maupun praktik imamah.
Melalui coaching clinic ini, para imam tidak hanya mendapatkan penguatan dalam hal tata cara ibadah, tetapi juga wawasan yang lebih luas dalam menjalankan fungsi sosial dan keagamaan di tengah masyarakat.
Lebih lanjut, Munafri juga muturkan pentingnya menjadikan masjid sebagai ruang ramah bagi anak-anak. Menurutnya, generasi muda harus dibiasakan sejak dini untuk dekat dengan masjid sebagai bagian dari pembentukan generasi Qur’ani menuju visi Indonesia Emas 2045.
Ia pun mendorong agar para imam rawatib turut menyiapkan regenerasi dengan mencetak calon-calon imam baru yang kompeten, sehingga keberlangsungan kualitas imamah tetap terjaga di masa mendatang.
Di akhir sambutannya, Munafri berharap kegiatan ini tidak sekadar menjadi seremonial, tetapi benar-benar dimanfaatkan sebagai momentum pembelajaran.
Appi juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan masjid sebagai bagian dari kenyamanan beribadah.
“Semoga kegiatan ini membawa manfaat bagi kita semua, sehingga ada perubahan dan perbaikan ke depan,” tutupnya.
Pada kesempatan ini, Founder Bosowa Corporindo (Bosowa Group), Aksa Mahmud, memberikan wejangan, ia menekankan pentingnya peningkatan keterampilan dan kompetensi imam rawatib sebagai bagian dari upaya membangun kualitas masyarakat Kota Makassar yang lebih baik.
Menurut Aksa Mahmud, kualitas bacaan imam menjadi salah satu indikator penting dalam membangun citra keagamaan sebuah daerah.
Dia berharap ke depan, masyarakat maupun pendatang dapat merasakan kualitas imam masjid di Makassar yang memiliki bacaan Al-Qur’an yang baik dan benar.
“Kita ingin memberi kesan bahwa imam-imam di masjid Kota Makassar memiliki bacaan yang baik, bahkan sempurna. Karena itu, penting bagi kita untuk terus saling mengingatkan dan memperbaiki kekurangan yang ada,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya budaya saling mengoreksi di antara para imam. Menurutnya, tanpa adanya masukan dan evaluasi, kesalahan yang terjadi berpotensi terus berulang.
“Kalau tidak ada yang mengingatkan, kesalahan itu bisa terus terjadi. Tapi kalau kita saling mengingatkan, tentu kita bisa berusaha memperbaiki,” jelasnya.
Aksa Mahmud juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Makassar dalam mendorong peningkatan kualitas imam dan khatib.
Dia menilai, upaya tersebut akan berkontribusi besar dalam mewujudkan Makassar sebagai kota dengan standar kehidupan keagamaan yang baik.
Selain itu, ia turut mendorong penguatan tradisi keagamaan melalui kegiatan seperti lomba barzanji. Menurutnya, kegiatan tersebut perlu dihidupkan kembali secara rutin sebagai bagian dari syiar Islam dan pembinaan generasi muda, dengan waktu pelaksanaan yang disesuaikan agar tidak mengganggu aktivitas ibadah di bulan Ramadan.
Di akhir sambutan, pendiri Bosowa Group itu kembali menegaskan bahwa, pembinaan imam tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan harus berkelanjutan.
Aksa Mahmud berharap, melalui forum seperti ini, para imam dapat terus meningkatkan kualitas bacaan, memperbaiki kekurangan, serta memperkuat peran strategisnya dalam membina umat.
“Yang sudah baik kita tingkatkan, yang belum sempurna kita sempurnakan. Yang terpenting adalah bagaimana kita saling mengingatkan dan terus memperbaiki diri,” tutupnya.(jk)
Editor: Hamzah

















