Bahkan, ia mengajak semua elemen agar berpartisipasi sekaligus membuka ruang peningkatan literasi statistik masyarakat, serta pemanfaatan data berbasis potensi lokal guna mendukung pembangunan yang lebih efektif dan tepat sasaran.
“Saya mengajak semua pihak untuk menjadi pelopor data. Buka sekadar program, tapi gerakan perubahan pola pikir menuju pembangunan desa dan kelurahan berbasis data yang akurat,” paparnya.
Sementara, Kepala BPS Wajo, Andi Asia Hasan Basri, menjelaskan program ini tidak hanya mendorong peningkatan literasi statistik, tetapi memperkuat kapasitas pengelolaan data serta peran aktif perangkat desa dalam menyediakan data yang akurat.
“Desa Cantik tentu mendorong terbentuknya agen statistik desa dan optimalisasi pemanfaatan data untuk perencanaan pembangunan yang lebih tepat sasaran,” katanya.
Di Kabupaten Wajo sendiri, program ini telah berjalan sejak 2022 dan terus menunjukkan perkembangan positif.
Pelaksanaan Program Desa Cantik tahun 2026 berfokus tiga kelurahan, yaitu Kelurahan Bulupabbulu, Mattirotappareng dan Wiringpalannae, Kecamatan Tempe.
“Ini bagian implementasi kebijakan Satu Data Indonesia sekaligus memastikan data yang dihasilkan berkualitas, terstandar, dan dapat dimanfaatkan secara optimal dalam pembangunan,” ujar Andi Asia. (r)
















