Meski demikian, penyelenggara berupaya menekan penggunaan energi dari sektor lain.
Berbeda dengan Piala Dunia sebelumnya yang banyak mengandalkan pembangunan stadion baru, mayoritas pertandingan tahun ini menggunakan fasilitas yang sudah ada. Pendekatan tersebut mengurangi kebutuhan konstruksi baru yang biasanya membutuhkan energi dan material dalam jumlah besar.
Atlanta menjadi salah satu contoh yang sering disebut dalam pembahasan energi Piala Dunia 2026. Stadion Mercedes-Benz yang akan menggelar delapan pertandingan termasuk semifinal memiliki lebih dari 4.000 panel surya. Melansir laporan resmi stadion, fasilitas tersebut mampu menghasilkan sekitar 1,6 juta kilowatt jam listrik per tahun. Desain bangunan yang lebih efisien juga memangkas konsumsi listrik sekitar 29% dibanding rancangan konvensional.
Houston mengambil jalur berbeda. Komite tuan rumah setempat berkomitmen memasok seluruh lokasi utama turnamen dengan listrik yang berasal dari sumber energi terbarukan. NRG Stadium yang menjadi arena pertandingan termasuk dalam cakupan program tersebut. Komitmen ini menarik perhatian karena Houston selama puluhan tahun dikenal sebagai pusat industri minyak dan gas Amerika Serikat.
Transformasi energi yang menyertai Piala Dunia juga terlihat dari berbagai upaya menjaga stabilitas sistem listrik.
Di Inggris, operator jaringan listrik NESO memperkirakan pertandingan yang melibatkan Inggris atau Skotlandia dapat memicu lonjakan konsumsi hingga 600 MW.
Pada pertandingan tertentu, kenaikannya bahkan diperkirakan mencapai 800 MW. Untuk menghadapi perubahan konsumsi yang terjadi dalam hitungan menit, operator mulai mengandalkan baterai penyimpanan energi dan teknologi penyeimbang jaringan.
Perkembangan tersebut memberi gambaran mengenai perubahan yang sedang berlangsung di sektor energi global. Fokus industri kini tidak lagi terbatas pada pembangunan pembangkit listrik. Kapasitas penyimpanan energi, ketahanan jaringan distribusi, efisiensi bangunan, hingga kemampuan mengelola lonjakan konsumsi menjadi bagian dari persiapan acara olahraga terbesar di dunia.
FIFA saat ini memiliki kemitraan dengan Saudi Aramco sebagai mitra energi eksklusif. Melansir berbagai laporan internasional, kontrak kerja sama tersebut bernilai sekitar US$100 juta per tahun. Di saat kota-kota tuan rumah berlomba memperbesar penggunaan energi bersih, industri minyak tetap menjadi salah satu sumber pendanaan terbesar dalam ekosistem sepak bola global.
jauh sebelum peluit pertama dibunyikan, pekerjaan besar sudah berlangsung di balik layar. Ribuan teknisi, operator jaringan, perusahaan utilitas, dan pengembang energi sedang memastikan turnamen terbesar dalam sejarah sepak bola dapat berjalan tanpa gangguan pasokan listrik. (***)
















