Ironisnya, demi mempertahankan jabatan yang sementara itu, sebagian orang rela mengorbankan harga diri, integritas, bahkan kebenaran.
Ketakutan yang paling mendasar adalah takut mati. Padahal kematian adalah kepastian yang tidak dapat ditawar. Tidak ada kekuasaan yang mampu menolak ajal. Tidak ada uang yang bisa membeli tambahan umur. Tidak ada jabatan yang mampu menghalangi datangnya kematian.
Karena itu, sesungguhnya manusia yang paling merdeka adalah manusia yang tidak diperbudak oleh rasa takut terhadap dunia. Ia sadar bahwa kekayaan, jabatan, dan kehidupan hanyalah titipan yang sewaktu-waktu akan diambil kembali oleh Sang Pencipta.
Dalam perspektif keimanan, rasa takut yang tertinggi hanya layak diberikan kepada Allah SWT. Ketika seseorang benar-benar memahami hal ini, maka ia tidak akan mudah tunduk kepada tekanan manusia. Ia tidak akan menjual kebenaran demi kekuasaan. Ia tidak akan menggadaikan prinsip demi jabatan.
Politikus yang bermental pemimpin adalah mereka yang berani berkata benar meskipun pahit. Berani berbeda meskipun sendirian. Berani kehilangan jabatan demi mempertahankan kehormatan. Berani membela rakyat meskipun harus berhadapan dengan kelompok-kelompok kuat yang memiliki pengaruh besar.
Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Bangsa ini tidak kekurangan orang berpendidikan tinggi. Yang semakin langka adalah orang-orang yang memiliki keberanian moral.
Karena itu, sudah saatnya politik Indonesia tidak lagi dipenuhi oleh politikus bermental follower. Negeri ini membutuhkan pemimpin yang mampu berdiri di atas keyakinannya sendiri, bukan sekadar menjadi pengekor kekuasaan. Pemimpin yang takut kepada Tuhan, bukan takut kepada kehilangan jabatan. Pemimpin yang menjaga amanah rakyat, bukan menjaga kenyamanan pribadi.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat berapa lama seseorang berkuasa. Sejarah akan mencatat keberaniannya ketika berhadapan dengan kebenaran.
Dan di hadapan Allah SWT kelak, yang ditanya bukanlah berapa tinggi jabatan yang pernah dimiliki, melainkan bagaimana amanah itu dijalankan.
Karena jabatan akan berakhir. Kekuasaan akan berlalu. Kekayaan akan ditinggalkan. Tetapi pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT akan berlangsung untuk selamanya. (Benz Jono Hartono)
















