JUM’AT KITA
MESIASINERGI.CO
Di suatu masa yang sangat jauh sebelum manusia mengenal sejarahnya sendiri, ada satu makhluk yang dikenal sebagai ahli ibadah paling tekun di antara makhluk-makhluk Tuhan. Ia bukan malaikat, tetapi kedudukannya hampir sejajar dengan mereka karena ketekunannya bersujud. Makhluk itu adalah Iblis.
Beribu-ribu tahun ia bersujud. Beribu-ribu tahun ia memuji. Beribu-ribu tahun ia berdiri dalam ketaatan yang tampak sempurna.
Langit mengenalnya sebagai makhluk yang tekun. Para malaikat mengenalnya sebagai makhluk yang rajin beribadah.
Namun sejarah langit berubah hanya oleh satu perintah.
Ketika Tuhan menciptakan Adam, manusia pertama, Tuhan memerintahkan seluruh makhluk yang berada di hadapan-Nya untuk bersujud sebagai penghormatan kepada ciptaan baru itu.
Para malaikat, yang tidak pernah membantah kehendak Tuhan, langsung bersujud.
Langit dipenuhi gerakan sujud.
Seluruh makhluk tunduk dalam kepatuhan.
Tetapi di tengah lautan sujud itu, satu makhluk tetap berdiri.
Ia adalah Iblis.
Ia tidak bergerak.
Ia tidak tunduk.
Ia tidak bersujud.
Dengan keberanian yang bercampur kesombongan, Iblis berkata kepada Tuhan:
“Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan Adam Engkau ciptakan dari tanah.”
Satu kalimat.
Hanya satu kalimat.
Tetapi kalimat itu mengandung racun yang paling berbahaya di alam semesta: kesombongan.
Iblis tidak menolak Tuhan.
Ia tidak berhenti mengakui keberadaan Tuhan.
Ia bahkan masih berbicara langsung dengan Tuhan.
Namun ia menolak kehendak Tuhan.
Di situlah kejatuhan itu terjadi.
Langit yang dulu memuliakannya kini menjadi saksi pengusirannya.
Tuhan murka.
Iblis yang dahulu dekat dengan Tuhan diusir dari kemuliaan langit.
Ia turun bukan sebagai makhluk yang dimuliakan, tetapi sebagai makhluk yang dilaknat hingga hari kiamat.
Dan pada suatu kisah yang sering dilupakan manusia, Iblis pernah menangis.
















