Ia berdiri di depan pintu langit yang telah tertutup baginya.
Ia menangis.
Tetapi tangisan itu bukan karena takut masuk neraka.
Bukan pula karena menyesal kehilangan surga.
Iblis menangis karena satu kesadaran yang datang terlambat:
Ia telah melampaui batas atas kehendak Tuhan.
Ia menyadari sesuatu yang tidak pernah ia sadari ketika kesombongan menguasai dirinya:
Kesombongan adalah hak Tuhan semata.
Hanya Tuhan yang berhak menyatakan keagungan-Nya.
Hanya Tuhan yang berhak memiliki kebesaran mutlak.
Makhluk, betapapun tinggi kedudukannya, tidak pernah memiliki hak itu.
Tetapi Iblis telah mencoba mengambilnya.
Dan sejak saat itulah sejarah manusia dimulai dengan satu pelajaran besar:
Bahwa ibadah yang panjang tidak menjamin keselamatan bila di dalam hati tumbuh kesombongan.
Bahwa kedekatan dengan Tuhan tidak berarti apa-apa jika seseorang mulai merasa dirinya lebih tinggi daripada kehendak Tuhan.
Iblis adalah makhluk yang pernah sangat dekat dengan langit.
Tetapi ia jatuh bukan karena kurang ibadah.
Ia jatuh karena sombong.
Dan di depan pintu langit yang tertutup itu, tangisannya menjadi saksi bagi seluruh makhluk:
Bahwa kehancuran terbesar tidak datang dari dosa yang kecil, tetapi dari kesombongan yang membuat makhluk merasa lebih benar daripada Tuhan.
Itulah tangisan Iblis di depan pintu langit.
Tangisan seorang makhluk yang terlambat memahami bahwa di hadapan Tuhan, tidak ada yang lebih mulia selain ketaatan. Dan tidak ada dosa yang lebih berbahaya daripada kesombongan. (Benz Jono Hartono, Praktisi Media Massa)
















