Oleh: Muh. Hamzah
MEDIASINERGI.CO WAJO — Corona virus (Covid-19) boleh saja mengharuskan orang-orang untuk saling menjaga jarak, namun rasa empati dan kepedulian tak boleh mengenal jaras.
Apalagi pandemi nyaris melumpuhkan semua sektor kehidupan. Tidak pegawai kantoran, petani, penjual asongan, dampak pandemi juga turut dirasakan anak-anak sekolah karena harus belajar online.
Bagi anak-anak yang memiliki keluarga berkecukupan mungkin tidak menjadi masalah. Lalu bagaimana nasib anak-anak yang tidak memiliki lagi orang tua, anak-anak yang orang tuanya kehilangan pekerjaan akibat pandemi?
Untuk makan sehari-hari saja terkadang susah, kini mereka mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli kuota internet setiap bulannya untuk digunakan belajar online.
Hasni contohnya, sejak sekolah tatap muka dilarang dia mengaku kadang membeli kuota 2 kali dalam perbulan. Maklum saja di desanya, tak ada penyedia internet gratis.
“Kadang dua kali kak dalam satu bulan. Tergantung intensnya pembelajaran,” ujar Hasni yang saat itu datang bersama 60 anak yatim lainnya di Masjid Nur Taqwa Lampajo, Desa Pasaka Kecamatan Sabbangparu, Kabupaten Wajo.
Untungnya sejak masa pandemi, para jurnalis Wajo yang tergabung dalam tim At-taubah Peduli, mengambil gerakan kepedulian dengan rutin memberikan santunan pada anak-anak yatim dan kurang mampu binaan Masjid At-taubah yang tersebar di sejumlah desa dan kelurahan Kabupaten Wajo.
“Sangat terbantu kak dengan adanya pemberian santunan seperti ini. Ini akan saya gunakan untuk membeli kuota internet,” kata siswa yang saat ini duduk di kelas 2 SMP dengan wajah sumringah.
















