Politik memang sering bekerja seperti cuaca: sulit ditebak dan mudah berubah arah.
Di tengah perubahan itu, Rukman Nawawi hadir bukan sebagai penonton. Sebagai pengurus PWI Pusat yang lahir dan tumbuh di kampung, ia memiliki jejaring yang luas di berbagai daerah Sulawesi Selatan. Sebagai CEO Media Sinergi Group, ia datang bersama kekuatan yang tidak kecil: 57 pemegang kartu biasa, para peserta penuh yang memiliki hak suara dalam konferensi.
Angka itu bukan sekadar statistik. Itu adalah modal politik yang cukup untuk membuat banyak orang tergoda bernegosiasi, menghitung keuntungan, atau mencari posisi paling aman. Tetapi ada orang yang lebih memilih menjaga nama daripada menjaga peluang.
Di tengah dunia organisasi yang kadang terlalu sibuk menghitung kursi, Rukman Nawawi mengingatkan bahwa karakter masih memiliki nilai. Bahwa komitmen tidak harus selalu tunduk pada kompromi. Dan bahwa anak kampung pun bisa berdiri tegak di tengah riuhnya pasar pengaruh tanpa harus menjual dirinya.
Jejak yang ditinggalkan mungkin bukan jabatan, bukan pula kemenangan politik semata. Yang tertinggal adalah teladan: bahwa integritas masih mungkin dipertahankan, bahkan ketika banyak orang menganggapnya sudah tidak lagi laku.
Teruslah berkarya, Kanda H. Rukman Nawawi. Sebab di tengah zaman yang terlalu sering mengagungkan transaksi, jejak karakter menjadi warisan yang jauh lebih mahal daripada sekadar kemenangan. (*)
















