Namun sebelum kendaraan diberangkatkan, sebuah ambulans yang kebetulan melintas berhasil dihentikan. Tanpa menunggu lebih lama, H. Baharuddin langsung dievakuasi menuju Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Bhayangkara Makassar.
Setiba di rumah sakit, tim medis segera memberikan penanganan intensif. Di saat yang hampir bersamaan, pengendara sepeda motor yang sebelumnya meninggalkan lokasi datang ke rumah sakit.
Ia mengakui keterlibatannya dalam kecelakaan tersebut dan menyampaikan kesediaannya untuk bertanggung jawab atas musibah yang menimpa H. Baharuddin.
Setelah memastikan korban berada dalam penanganan tenaga kesehatan, Suhardi Dg. Rurung kembali menuju Masjid Besar Al-Abrar dengan menumpang bayay dan membayar ongkos Rp20 ribu.
Baginya, tugas belum selesai. Menjelang terbenamnya matahari, ia harus kembali menyalakan perangkat radio masjid untuk menyambut berkumandangnya azan Magrib yang akan menggema ke kawasan Al-Abrar dan sekitarnya.
Senja pun perlahan turun. Di antara sirene ambulans, langkah para penolong, dan lantunan azan yang menggema, musibah sore itu seolah mengingatkan bahwa hidup hanya berjarak satu detik antara ketenangan dan ujian.
Yang tersisa bagi manusia adalah saling menolong, memikul tanggung jawab, dan menyerahkan segala ikhtiar kepada Allah Swt., Sang Pemilik Takdir. (sdn)
















