Home / OPINI

Selasa, 18 Agustus 2026 - 11:01 WIB

Kepedihan Umat Islam atas Dicoretnya Tujuh Kata Piagam Jakarta

Benz Jono Hartono, Praktisi Media Massa.

Benz Jono Hartono, Praktisi Media Massa.

MEDIASINERGI.CO

Ada tanggal yang tercatat dalam sejarah bangsa dengan tinta emas. Tetapi bagi umat Islam Indonesia, 18 Agustus 1945 juga menyimpan kepedihan yang mendalam.

Sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan, bangsa Indonesia menetapkan Undang-Undang Dasar 1945. Dalam proses tersebut, tujuh kata dalam rumusan Piagam Jakarta —  “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” — dihapus dalam Pembukaan UUD 1945.

Bagi umat Islam yang sejak awal turut berjuang melawan penjajahan dan mengorbankan darah, harta, tenaga, bahkan nyawa untuk kemerdekaan Indonesia, perubahan itu tentu meninggalkan pertanyaan besar,

Mengapa ketika Indonesia merdeka, cita-cita sebagian besar pejuang Islam untuk menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berbangsa harus dibuang?

Pertanyaan itu tidak boleh dijawab dengan kebencian. Tetapi juga tidak boleh dihapus dari ingatan sejarah.

Baca Juga:  Musang King di Pekarangan Rumah: Peneduh Estetik, Sekaligus "Tabungan" Kuliner Masa Depan Keluarga

Umat Islam mempunyai sejarah panjang dalam perjuangan Indonesia. Pesantren, ulama, santri, organisasi Islam, dan rakyat Muslim berada di berbagai garis perjuangan melawan kolonialisme kaum kafir dan kaum munafik. Karena itu, wajar apabila umat Islam terus merasa dipecundangi karena nilai-nilai Islam tidak dikasih tempat yang bermartabat dalam kehidupan bernegara.

Perjuangan itu harus terus dilakukan dengan ilmu, akhlak, demokrasi, keteladanan, dan penghormatan terhadap seluruh warga negara.

Sebab persoalan terbesar bangsa ini bukanlah siapa yang beragama apa, melainkan apakah kekuasaan dijalankan dengan keadilan atau kezaliman, amanah atau pengkhianatan, kepentingan rakyat atau kepentingan segelintir elite.

LALU, BERAPA RATUS TAHUN LAGI?

“Berapa ratus tahun lagi umat Islam harus berjuang?”

Dan,

“Mampukah umat Islam membuktikan bahwa kehidupan yang berlandaskan tauhid, keadilan, amanah, ilmu pengetahuan, dan akhlakul karimah benar-benar mampu menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia?”

Baca Juga:  Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola

Jika umat Islam menginginkan kehidupan yang lebih Islami, maka perjuangannya tidak cukup hanya dengan slogan.

Ia harus dimulai dari kejujuran para pemimpinnya, kebersihan ekonominya, kualitas pendidikannya, kekuatan ilmu pengetahuannya, profesionalitas aparat dan pejabatnya, serta keteladanan akhlaknya.

Jangan sampai umat berbicara tentang Islam tetapi masih membenarkan korupsi.

Jangan sampai berbicara tentang keadilan tetapi melakukan ketidakadilan ketika memperoleh kekuasaan.

Jangan sampai berbicara tentang tauhid tetapi menjadikan jabatan, uang, dan kekuasaan sebagai sesembahan baru.

Islam harus hadir bukan sekadar sebagai simbol kekuasaan, tetapi sebagai sumber moral yang melahirkan keadilan.

LUKA SEJARAH, BUKAN DENDAM SEJARAH

Share :

Baca Juga

OPINI

PENJAJAHAN JILID DUA DILANJUTKAN OLEH “LONDO IRENG”

OPINI

Ada 12 buah untuk Diabetes yang Baik Dikonsumsi

OPINI

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola

OPINI

Musang King di Pekarangan Rumah: Peneduh Estetik, Sekaligus “Tabungan” Kuliner Masa Depan Keluarga

Makassar

Jejak Karakter di Tengah Pasar Pengaruh

OPINI

Mengapa Setiap Ganti Menteri, Ganti Program? Penyakit Lama dalam Kebijakan Publik Indonesia

OPINI

Bosan Teras Rumah Terasa Gerah? Coba Pasang “Kanopi Hidup” Ini

OPINI

Provokasi di Balik Aksi dan Kontroversi Pernyataan Menteri Agama