Home / OPINI

Kamis, 4 September 2025 - 10:47 WIB

Provokasi di Balik Aksi dan Kontroversi Pernyataan Menteri Agama

Sebuah Opini: Musmuliadi (Founder Anak Muda Desa)

MEDIASINERGI.CO WAJO — Beberapa hari terakhir, bangsa Indonesia kembali diguncang oleh aksi demonstrasi yang berakhir ricuh. Ruang demokrasi yang seharusnya menjadi sarana penyampaian aspirasi rakyat, justru ternodai oleh ulah segelintir provokator. Apa yang mestinya berlangsung damai, berubah menjadi panggung kerusuhan: perusakan fasilitas umum, bentrokan, dan ketakutan di tengah masyarakat.

Pola semacam ini bukan hal baru. Hampir di setiap momentum penting, selalu ada pihak yang berusaha menunggangi aksi. Tuntutan murni rakyat sengaja digeser menjadi provokasi. Media sosial kemudian dipakai sebagai senjata: potongan video dipelintir, kalimat dipotong tanpa konteks, hingga fakta diputar balik untuk memicu kemarahan massal. Fenomena ini menandakan adanya kekuatan besar yang bekerja di balik layar, kekuatan yang ingin Indonesia sibuk bertikai alih-alih membangun.

Baca Juga:  Musang King di Pekarangan Rumah: Peneduh Estetik, Sekaligus "Tabungan" Kuliner Masa Depan Keluarga

Di tengah situasi panas tersebut, pernyataan Menteri Agama tentang profesi guru ikut dijadikan bahan bakar provokasi. Kalimat beliau dipotong dan disebarkan tanpa konteks, seolah-olah merendahkan martabat guru. Padahal, jika disimak secara utuh, makna yang beliau sampaikan justru sangat luhur. Menag menegaskan

Baca Juga:  Hari Bhayangkara ke-79, Polres Wajo Ajak Masyarakat Donor Darah

“Profesi guru adalah profesi yang mulia. Kalau ingin semata-mata mencari uang, jangan jadi guru, tapi jadilah pedagang atau wirausaha. Guru bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan hati untuk mendidik dan membentuk generasi bangsa.” (3/9/2025)

Kutipan ini jelas menunjukkan bahwa Menteri Agama tidak sedang meremehkan guru, melainkan ingin mengingatkan bangsa bahwa profesi pendidik tidak bisa disamakan dengan pekerjaan yang hanya berorientasi pada materi. Guru adalah ujung tombak pendidikan, arsitek peradaban, dan penentu arah masa depan bangsa.

Share :

Baca Juga

OPINI

Mengapa Bantuan Hukum Harus Hadir Sejak Awal?

OPINI

SIAPAKAH TARGET OPERASI PENGESAHAN RUU PERAMPASAN ASET PADA 15 DESEMBER 2026

OPINI

Kepedihan Umat Islam atas Dicoretnya Tujuh Kata Piagam Jakarta

OPINI

PENJAJAHAN JILID DUA DILANJUTKAN OLEH “LONDO IRENG”

OPINI

Ada 12 buah untuk Diabetes yang Baik Dikonsumsi

OPINI

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola

OPINI

Musang King di Pekarangan Rumah: Peneduh Estetik, Sekaligus “Tabungan” Kuliner Masa Depan Keluarga

Makassar

Jejak Karakter di Tengah Pasar Pengaruh