MEDIASINERGI.CO MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin alias Appi, memaparkan berbagai inovasi dan program unggulan Pemerintah Kota Makassar dalam mendorong pemberdayaan masyarakat hingga penataan lingkungan di tingkat kelurahan.
Paparan tersebut disampaikan Appi dalam Pemaparan dan Wawancara Calon Juara Penjaringan Desa dan Kelurahan Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2026 yang dilaksanakan Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa Kementerian Dalam Negeri secara daring, di Kantor Balai Kota Makassar, Kamis 8 Oktober 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Appi mengurai sejumlah program yang dinilai mampu memberikan dampak langsung kepada masyarakat, khususnya berbagai inovasi yang berjalan di Kelurahan Gunung Sari, Kecamatan Rappocini.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan pendekatan ekonomi sirkular.
Menurut Appi, pemilahan dan pemanfaatan sampah tidak hanya menjadi solusi terhadap persoalan lingkungan, tetapi juga dapat menciptakan nilai ekonomi sekaligus mendukung program pemberdayaan masyarakat.
“Program pemilahan sampah menghadirkan sirkular ekonomi yang ada di dalam wilayah kelurahan ini tentu akan memberikan dampak yang baik,” ujar Appi, saat dikonfirmasi, Jumat 9 Oktober 2026.
“Sehingga sirkular ekonomi bisa menyelesaikan persoalan lingkungan, khususnya dengan sampah yang ada,” sambungnya.
Ia menjelaskan, di Kelurahan Gunung Sari kebersihan tetap terjaga, bahkan telah berjalan sistem pemanfaatan sampah organik yang diolah menjadi kompos.
Kompos tersebut kemudian dimanfaatkan untuk memberikan nutrisi bagi tanaman yang dikembangkan masyarakat melalui pertanian lahan sempit atau urban farming.
Program tersebut dijalankan bersama kelompok masyarakat dengan dukungan perangkat daerah terkait, termasuk Dinas Perikanan terkait di Kota Makassar.
Bagi Appi, pola tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan lingkungan dapat dilakukan dari tingkat paling dekat dengan masyarakat, sekaligus menghasilkan manfaat lain bagi ketahanan pangan dan pemberdayaan warga.
“Jadi mereka melakukan kegiatan ini bersama dengan kelompok masyarakat yang tentu mendapatkan support dari Dinas yang ada di lingkup Pemerintah Kota Makassar,” katanya.
Selain inovasi lingkungan, Appi juga mengangkat potensi budaya yang dimiliki Kelurahan Gunung Sari, Kecamatan Rappocini.
Menurutnya, keberadaan rumah adat yang masih terjaga menjadi salah satu kekuatan lokal yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari daya tarik wisata berbasis kearifan lokal.
Rumah adat tersebut dinilai mampu menjadi ruang untuk memperkenalkan sejarah, adat, dan budaya masyarakat Makassar kepada generasi muda maupun masyarakat dari luar daerah.
“Di wilayah Kelurahan Gunung Sari ini masih ada satu rumah adat yang sangat terjaga. Ini bisa memberikan bagaimana bercerita tentang kearifan lokal yang ada di wilayah Kota Makassar,” jelasnya.
Ia menilai, keberadaan kearifan lokal tersebut merupakan potensi yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari pariwisata lokal.
“Di Kelurahan Gunung Sari ini masih sangat memperhatikan adat dan budaya masyarakat lokal yang tentu menjadi local wisdom yang bisa kita jual sebagai jualan untuk pariwisata lokal yang ada di kota ini,” bebernya.
Tidak hanya lingkungan dan budaya, keberhasilan Gunung Sari juga terlihat dari partisipasi masyarakat dalam mendukung program pemerintah, termasuk kepatuhan membayar pajak dan retribusi.
Orang nomor satu Kota Makassar itu menyebut, tingginya kepatuhan masyarakat tersebut tidak terlepas dari pendekatan yang dilakukan lurah bersama jajaran dengan aktif melakukan sosialisasi dan membangun kedekatan dengan warga.
Kedekatan tersebut, kata Appi, menjadi modal penting dalam membangun pemerintahan yang tidak hanya bekerja secara administratif, tetapi mampu menggerakkan masyarakat untuk ikut menyelesaikan persoalan di wilayahnya.
“Ini yang kemudian membuat masyarakat mau bergerak bersama pemerintah,” ujarnya.
Selain itu, Appi turut menekankan keberhasilan Gunung Sari dalam menekan angka stunting. Menurutnya, penanganan stunting di tingkat kelurahan menunjukkan hasil yang signifikan.
Dari kondisi sebelumnya, kasus stunting di wilayah tersebut kini tersisa dua kasus yang ditargetkan dapat ditangani secara bersama melalui intervensi di tingkat kelurahan.
Appi menekankan, penyelesaian persoalan stunting tidak selalu harus menunggu intervensi berskala besar. Kepedulian masyarakat dan koordinasi antara lurah, jajaran pemerintah.
Serta warga dapat menjadi kekuatan utama dalam memastikan anak-anak yang mengalami stunting mendapatkan pendampingan hingga keluar dari kondisi tersebut.
“Artinya, masyarakat yang ada di Kelurahan Gunung Sari melalui lurah akan memperhatikan sampai dengan pengidap stunting ini bisa keluar dari kondisi stunting,” jelasnya.
Menurut Appi, pola tersebut dapat menjadi contoh bagi kelurahan lain di Kota Makassar untuk kedepannya.
Persoalan sosial, kesehatan, lingkungan, hingga pemberdayaan masyarakat dapat diselesaikan secara bersama apabila terdapat kepemimpinan di tingkat kelurahan yang mampu membangun kepercayaan dan partisipasi warga.
“Ini akan menjadi contoh di kelurahan lain ketika persoalan ini bisa diselesaikan secara internal di kelurahan. Artinya, saling peduli di antara masyarakat yang ada di kelurahan ini bisa berjalan dengan baik,” tutupnya.
Kelurahan Gunung Sari, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, mengusung inovasi “Simpul Nusantara” dalam penilaian Calon Juara Penjaringan Desa dan Kelurahan Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2026.
Inovasi tersebut menjadi strategi Kelurahan Gunung Sari dalam menyatukan berbagai potensi dan kelompok masyarakat untuk membangun ketahanan wilayah.
Mulai dari pelayanan publik berbasis digital, ketahanan pangan, lingkungan, ekonomi, budaya, keamanan hingga kesehatan.
Lurah Gunung Sari, Ahmad Abubakar, mengatakan konsep ” Simpul Nusantara” dibangun dengan menempatkan pemerintah kelurahan sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai kelompok masyarakat agar dapat bergerak bersama dan tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Berbicara soal inovasi, kami di pemerintah kelurahan tidak hanya berbicara soal teknologi. Kami mempunyai inovasi unggulan yang kami beri nama Simpul Nusantara,” ujar Ahmad, saat memaparkan inovasi Kelurahan Gunung Sari di hadapan tim penilai tingkat nasional.
Menurutnya, Gunung Sari memiliki luas wilayah sekitar 1,6 kilometer persegi dengan jumlah penduduk mencapai 18.492 jiwa.
Kelurahan ini juga berada di wilayah selatan Kota Makassar dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Gowa, sehingga menjadi salah satu pintu gerbang Kota Makassar dari arah selatan.
Ahmad menjelaskan, konsep “Simpul Nusantara” kemudian diterjemahkan melalui berbagai inovasi yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Di bidang digitalisasi pelayanan, misalnya, Kelurahan Gunung Sari memanfaatkan aplikasi Sistem Informasi Manajemen Kelurahan atau “SIM Lurah”.
Aplikasi tersebut tidak hanya digunakan untuk pelayanan administrasi warga, tetapi juga menjadi basis data kelurahan yang memuat informasi kependudukan, RT/RW, kegiatan masyarakat hingga laporan kegiatan RT/RW.
Sementara untuk keterbukaan informasi, kelurahan mengembangkan website yang menjadi media publikasi berbagai kegiatan, sekaligus mengintegrasikan informasi mengenai program unggulan pemerintah kota.










