Home / Artikel

Senin, 28 Februari 2022 - 19:49 WIB

Kiat Menulis: Bertutur tentang Sosok di Media Massa

Mohammad Nasir

Mohammad Nasir

Akan tetapi diskripsi kebendaan itu diperlukan hanya untuk mendukung atau mengantarkan cerita yang relevan dengan tema yang kita pilih. Sepanjang itu relevan dengan tema tulisan, silakan, tetapi jangan terlalu panjang, karena bisa membosankan pembaca.

Misalnya kalau kita memilih tema bidang pendidikan, penulis akan lebih tepat mendiskripsikan judul tumpukan buku-buku di meja depan subjek atau di lemarinya. Menceritakan kemegahan kampus tempat subjek kuliah, menggambarkan keseriusannya dalam menimba ilmu pengetahuan.

Menggambarkan fisik tubuh dalam tulisan juga tidak ada masalah, tetapi yang positif tentunya, seperti menceritakan wajah subjek perempuan yang lebih tampak segar alami. Boleh juga mendiskripsikan sesuatu yang membanggakan diri subjek, misalnya, “bulu matanya lentik” dan seterusnya.

Atau menggambarkan semangat yang heroik. Misalanya, “Ketika ditanya dirinya dalam keterlibatan perjuangan TNI di Timor Timur, pria pensiunan perwira TNI yang bertubuh atletis, tampak seperti garang kembali. Suaranya lantang dan tubuhnya gemetar ketika bercerita, seakan-akan dia kembali masuk hutan mengejar musuh negara di sana”.

Idealistik

Idealistik berkaitan dengan pemikiran subjek, pengetahuan, gagasan, pandangannya yang sedang diperjuangkan, nilai-nilai yang dianut dan dikembangkan, cita-citanya atau harapannya, dan lain-lain.

Dalam dunia pendidikan, ide dan pengetahuan lebih menonjol daripada dunia materi. Akan tetapi ide-materi saling terkoneksi, saling melengkapi.

Untuk menggali idealistik dari subjek, pewawancara harus tahu di mana dulu subjek belajar, bidang apa yang ditekuni, dan penerapannya sudah sampai mana. Adakah suatu cita-cita besar menggantung di sana? Sampai di mana harapannya sudah terpenuhi, dan apa hasil yang sudah bisa diperlihatkan (terhubung ke materialistik).

Baca Juga:  MENJALANI WAKTU

Adakah pertarungan ide yang sedang dilakukan dengan ide-ide orang lain di luar sana? Nilai-nilai model apa yang sekarang sedang diperjuangkan dengan gigih sekarang?

Bagaimana Menyusun Cerita

Tulis saja apa yang didapat dari hasil wawancara dan catatan latar belakang yang sudah diuji kebenaranya, serta kesaksian orang lain kalau ada. Apa yang mau Anda tuturkan terlebih dulu, silakan. Lead yang memancing minat membaca sampai tuntas, silakan tulis.

Ceritakan di antara 5 W + 1 H (what, who, where, when, why, dan how) yang paling menarik. Tidak harus bercerita berdasarkan kronologi, bercerita secara tematik juga menarik. Terserah.

Menulis cerita kehidupan tidak perlu berdasarkan kronologi waktu, mulai lahir hingga saat ini. Tetapi pilihlah satu fase yang paling dirasakan luar biasa (extraordinary), baik itu menyangkut tempat, waktu, atau kejadian yang sangat menonjol dalam sejarah hidup.

Kenapa dipilih fase yang ada nilai extraordinary? Supaya pembaca tertarik dan membacanya sampai tuntas.

Jangan memberi jawaban keingintahuan pembaca di baris pertama atau kedua, bawa terus pembaca sampai membaca seluruhnya.

Informasi penting ditebar di praragrap demi paragrap. Kalau ada humor yang sesuai untuk dimasukkan dalam cerita, silakan tulis.

Bikin pembaca penasaran. Menyusun cerita mengalir dari alinea ke alinea perlu latihan. Di antara alinea di atas dan yang di bawah ada jembatan berupa kata atau frase yang menghubungkan, sehingga pikiran tidak terputus.

Jangan menggunakan kata opini. Lebih baik sampaikan fakta-faktanya. Kalaupun menggunakan opini, segera jelaskan fakta-faktanya. “Misalnya, kepala sekolah SMA itu rajin memanggil murid yang telat masuk kelas”. Kata “rajin” di sini opini. Maka harus disusul fakta. Misalnya, kalimat tersebut segera disusul dengan kalimat, “Kemarin 10 anak dipanggil ke ruangannya, sekarang enam anak. Dalam sepekan kadang-kadang sampai 50 anak”.

Baca Juga:  Soal Berita Sepihak

Untuk menguasai teknik penulisan yang memenuhi harapan seperti itu, kuncinya hanya berlatih, menulis terus-menerus, seperti belajar naik sepeda. Tidak ada teori yang lebih baik, kecuali langsung menaikinya dengan segala kekurangan, dan kadang-kadang jatuh bangun. Namun dalam jumlah jam tertentu, orang sudah bisa naik sepeda dengan baik.

Jujur Bertutur

Banyak subjek tidak sanggup diceritakan warna kehidupannya seperti apa adanya. Banyak yang “menyensor” cerita kehidupan sendiri. Kejujuran adalah tantangan terbesar bagi orang yang ditulis kehidupannya. Menulis kehidupan (live writing) berbeda dengan menulis novel yang mengutamakan creation, fiction.

Menulis kehidupan bukan bertujuan untuk memamerkan kesuksesan, tetapi untuk menjadi teladan atau pelajaran bagi banyak orang yang sedang menapaki kehidupan yang penuh rintangan. Bagi subjek sendiri, tulisan sosok merupakan refleksi perjalanan hidupnya. Subjek akan menyadari seharusnya jalan kehidupan yang benar itu seperti apa.

Tentu saja untuk media massa, cerita sosok ini bisa meningkatkan jumlah pembacanya. Pembaca merasa memperoleh manfaat setelah membaca sosok seseorang yang bisa dijadikan teladan bagi pembaca dan keluarganya.

#Penulis wartawan senior Harian Kompas (1989- 2018), memperdalam skill menulis kehidupan di kelas Advanced Writing Live Department for Continuing Education, University of Oxford. Kini Mentor Fellowship Jurnalisme Pendidikan pada Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan, serta penulis kolom pembelajaran yin-yang terapan. Materi ini disampaikan dalam pelatihan Program FJP Angkatan IV 2022 GWPP.(**)

Share :

Baca Juga

Artikel

Dua Satkamling Di Soppeng Disambangi Tim Dit Binmas Polda Sulsel

Advertorial

Dishub Makassar Hadiri FGD Ketiga Penyusunan Naskah Akademik Ranperda Kota Sehat

Artikel

Refleksi Sumpah Pemuda: Musmuliadi Ingatkan Pemerintah Wajo Soal Janji Program Muda Milenial Maradeka

Artikel

Cahaya dari Timur: Refleksi Hari Santri dan Warisan Keilmuan As’adiyah

Artikel

Musmuliadi: Melecehkan Pesantren Sama Saja Merendahkan Akar Moral Bangsa

Artikel

PPENTINGNYÀ PERAN dan FUNGSI MEDIA

Advertorial

Menyulam Harapan di Bumi Lamadukkelleng: Jejak 100 Hari Pemerintahan Andi Rosman–Baso Rakhmanuddin

Artikel

Pendidikan dan Peran Perempuan Diera Globalisi