Menurut Ampa Uleng
Mengatakan bahwa pemamfaat akan di bangun rumah adat kuno ,sebagai Wisata Adat Religius, dan Agrobisnis, juga untuk memperkuat kelembagaan dengan membentuk forum adat Luwu sejalan dengan aturan Kemendagri.
Lanjut Andi Ampa, dengan di bangunnya rumah adat kuno Sawerigading bermamfaat diantaranya untuk memperlihatkan kebesaran bangsa Bugis di mata dunia,sebagai forum silaturahmi anak cucu putra Luwu yang telah menyebar di seluruh dunia dalam rangka menjaga keutuhan NKRI dan sebagai tempat wisata baik budaya yang Rekigius ,dan Agro bisnis.
Selain itu,menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar,sebagai wahana atau tempat menciptakan dan menyalurkan bakat membuat masakan khas tradisi dan karya seni untuk cendramata bagi pengunjung wisatawan lokal dan manca Negara tutupnya.
Sekedar diketahui sumber Lireq Galigo [Edisi H.Kern 1939] Sawerigading adalah nama seorang putra Raja Luwu Purba, Sulawesi selatan, Indonesia.
Dalam bahasa Sawerigading berasal dari dua kata ,yaitu Sawe yang berarti menetas (lahir),dan Rigading yang berarti di atas bambu betung .jadi nama Sawerigading berarti keturunan orang menetas (lahir) di atas
bambu betung.
Di mulai ketika para Dewa langit bermufakat untuk mengisi Dunia ini ,Dengan mengirim Batara Guru anak pototoe di langit dan Nyilitomo anak Guru Ri Selleng di pertiwi(dunia bawah) untuk menjadi pengusa di bumi.jadi perkawinan keduanya lahirlah Batara Lettu.
Batara Lettu yang kelak akan menggatikan ayahnya menjadi pengusa di Luwu.jadi setelah batara lettu menggantikan Ayahnya jadi penguasa Luwu, Batara Guru kembali ke langit, dan dari perkawinan keduanya
Lahirlah Sawerigading dan Wetenrial Sebagai anak kembar emas yaitu seorang laki laki dan seorang perempuan.
Mengenai masa hidup Sawerigading terdapat berbagai versi ahli sejarah , menurut versi Towani Tolotang di Sidenreng.
Sawerigading lahir tahun 564 M jika versi ini di hadapkan dengan beberapa versi lain maka versi ini tidak terlalu jauh perbedaannya denga tiga versi lainnya
-Versi Sulawesi Tenggara Abad ke V.
-Versi Gororongtalo ,900 di Kurangi 50=850.
-Versi Kelantan
– Tengganu 710. (***)
















