“Akan tetapi pertumbuhan ekonomi kita mengalami pelambatan dari sebelumnya 2,38% menjadi 1,43% yang diakibatkan oleh menurunnya produksi pertanian. Angka inflasi juga mengalami penurunan dari 4,78% di bulan Januari 2024, dan mencapai puncaknya pada bulan Februari sebesar 5,48%, namun kini di bulan Juli telah berada di angka 1,46% di bawah inflasi Sulsel sebesar 1,73% dan inflasi nasional sebesar 2,13%,” jelas Bataralifu.
Orang nomor Wahid di Bumi Lamaddukkelleng ini mengungkapkan, potensi alam utama Wajo saat ini adalah Cadangan Gas Alam sebesar 2 Triliun Kaki Kubik yang sementara dalam proses eksplorasi, ditambah hasil pertanian dan perikanan yang menjadi andalan dalam komposisi perekonomian.
“Kini, prioritas ke depan yang menjadi fokus pemerintah daerah kata Bataralifu, adalah mengendalikan inflasi, menurunkan kemiskinan ekstrem, menurunkan stunting, menyehatkan BUMD, meningkatkan kualitas layanan publik, mengatasi pengangguran, meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, dan kemudahan perizinan.
“Mudah-mudahan, di bawah arahan Dewan Profesor Universitas Hasanuddin, Wajo dapat lebih maju dan berkembang di masa yang akan datang. Terutama dari sisi pengambilan kebijakan yang sudah harus selalu berbasis evidence dan berbasis scientific. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah demikian maju dewasa ini, harus dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk menjamin kebijakan yang kita ambil dapat berjalan sebagaimana mestinya,” pungkas Direktur Fasilitasi Kepala Daerah dan DPRD Dirjen Otoda Kemendagri ini. (bri)
Editor: Manaf Rachman
















