Namun persoalan tidak selesai di situ. Publik menunggu ketegasan Polda Sulsel untuk mengungkap siapa dalang yang menggerakkan massa, memprovokasi anak-anak, hingga melahirkan kekacauan di jantung demokrasi Sulsel.
Aksi ini jelas bukan spontanitas, melainkan terorganisir. Pertanyaannya, siapa yang bermain di balik layar. Siapa yang berani menjadikan anak-anak tameng dalam aksi kotor.
Polda Sulsel ditekan untuk tidak hanya berhenti di level eksekutor jalanan, tetapi mengejar otak intelektual yang merusak tatanan hukum dan demokrasi.(jk)
















