Home / Artikel

Rabu, 22 Oktober 2025 - 08:31 WIB

Cahaya dari Timur: Refleksi Hari Santri dan Warisan Keilmuan As’adiyah

Sebagai santri yang tumbuh dalam tradisi pesantren, beliau membawa semangat keas’adiyahan dalam kebijakan dan langkah kepemimpinannya. Di bawah kepemimpinannya, Kementerian Agama menekankan tiga arah besar:
1. Penguatan moderasi beragama sebagai fondasi kebangsaan,
2. Transformasi pendidikan Islam agar pesantren dan madrasah siap menghadapi era global,
3. Pemberdayaan ekonomi santri dan pengembangan digitalisasi pesantren.

Dalam beberapa tahun terakhir, geliat keilmuan santri kembali tampak melalui kegiatan Musabaqah Qiraatil Kutub Internasional (MQKI) dan Musabaqah Qiraatil Kutub Nasional (MQKN). Ajang ini bukan sekadar lomba baca kitab kuning, melainkan ruang pertemuan intelektual antara tradisi klasik Islam dan tantangan zaman modern.

Melalui MQK, santri As’adiyah dan ribuan santri lainnya dari seluruh Indonesia menunjukkan bahwa kitab kuning masih hidup bukan hanya dibaca, tetapi ditafsirkan, dikontekstualisasi, dan dijadikan pedoman berpikir di era digital. Sukses penyelenggaraan MQKI dan MQKN menjadi simbol bahwa tradisi pesantren bukan milik masa lalu, tetapi bekal masa depan.

Baca Juga:  Serap Aspirasi Warga di Mamarita, Muhammad Farid Rayendra Fokus Benahi Drainase dan Infrastruktur

Mengawal Indonesia Merdeka bukan sekadar menjaga simbol, tetapi memastikan agar semangat kemerdekaan tetap berjiwa berpihak pada keadilan, kemanusiaan, dan kesejahteraan. Santri hari ini dituntut untuk terus mengawal kemerdekaan melalui keilmuan, inovasi, dan keteladanan moral.

Pesantren seperti As’adiyah telah memberi teladan bahwa kekuatan bangsa tidak hanya terletak pada ekonomi dan politik, tetapi juga pada akhlak dan kecerdasan spiritual. Dari ruang-ruang belajar yang sederhana, para santri ditempa menjadi manusia yang berdaya saing global, tanpa kehilangan akar kearifan lokal.

Tema Hari Santri tahun ini, “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia,” merupakan panggilan bagi seluruh pesantren untuk melangkah ke panggung global. Dengan ribuan alumni yang kini berkiprah di dalam dan luar negeri, As’adiyah telah menunjukkan bahwa pesantren bisa menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, antara lokalitas dan globalitas.

Baca Juga:  Pelaksanaan Syarat Sah Sholat Jamak Qhosor

Dari Sengkang, nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin mengalir melintasi batas-batas geografis. As’adiyah menjadi bukti bahwa cahaya dari Timur bukan hanya menerangi Nusantara, tetapi juga menyinari peradaban dunia.

Hari Santri bukan hanya peringatan sejarah, melainkan momentum reflektif untuk menegaskan peran santri sebagai penjaga ilmu, iman, dan kemerdekaan. Dari As’adiyah, cahaya keilmuan dan spiritualitas itu terus bersinar, menembus zaman, menerangi negeri, dan menuntun bangsa menuju peradaban yang beradab.

Santri mengawal Indonesia merdeka bukan dengan teriakan, melainkan dengan karya. Dan dari Wajo, cahaya itu tak pernah padam. Cahaya dari Timur, untuk peradaban dunia.(r)

Share :

Baca Juga

Artikel

Dua Satkamling Di Soppeng Disambangi Tim Dit Binmas Polda Sulsel

Advertorial

Dishub Makassar Hadiri FGD Ketiga Penyusunan Naskah Akademik Ranperda Kota Sehat

Artikel

Refleksi Sumpah Pemuda: Musmuliadi Ingatkan Pemerintah Wajo Soal Janji Program Muda Milenial Maradeka

Artikel

Musmuliadi: Melecehkan Pesantren Sama Saja Merendahkan Akar Moral Bangsa

Artikel

PPENTINGNYÀ PERAN dan FUNGSI MEDIA

Advertorial

Menyulam Harapan di Bumi Lamadukkelleng: Jejak 100 Hari Pemerintahan Andi Rosman–Baso Rakhmanuddin

Artikel

Pendidikan dan Peran Perempuan Diera Globalisi

Artikel

Bagaimana Puasanya?