Sebagai santri yang tumbuh dalam tradisi pesantren, beliau membawa semangat keas’adiyahan dalam kebijakan dan langkah kepemimpinannya. Di bawah kepemimpinannya, Kementerian Agama menekankan tiga arah besar:
1. Penguatan moderasi beragama sebagai fondasi kebangsaan,
2. Transformasi pendidikan Islam agar pesantren dan madrasah siap menghadapi era global,
3. Pemberdayaan ekonomi santri dan pengembangan digitalisasi pesantren.
Dalam beberapa tahun terakhir, geliat keilmuan santri kembali tampak melalui kegiatan Musabaqah Qiraatil Kutub Internasional (MQKI) dan Musabaqah Qiraatil Kutub Nasional (MQKN). Ajang ini bukan sekadar lomba baca kitab kuning, melainkan ruang pertemuan intelektual antara tradisi klasik Islam dan tantangan zaman modern.
Melalui MQK, santri As’adiyah dan ribuan santri lainnya dari seluruh Indonesia menunjukkan bahwa kitab kuning masih hidup bukan hanya dibaca, tetapi ditafsirkan, dikontekstualisasi, dan dijadikan pedoman berpikir di era digital. Sukses penyelenggaraan MQKI dan MQKN menjadi simbol bahwa tradisi pesantren bukan milik masa lalu, tetapi bekal masa depan.
Mengawal Indonesia Merdeka bukan sekadar menjaga simbol, tetapi memastikan agar semangat kemerdekaan tetap berjiwa berpihak pada keadilan, kemanusiaan, dan kesejahteraan. Santri hari ini dituntut untuk terus mengawal kemerdekaan melalui keilmuan, inovasi, dan keteladanan moral.
Pesantren seperti As’adiyah telah memberi teladan bahwa kekuatan bangsa tidak hanya terletak pada ekonomi dan politik, tetapi juga pada akhlak dan kecerdasan spiritual. Dari ruang-ruang belajar yang sederhana, para santri ditempa menjadi manusia yang berdaya saing global, tanpa kehilangan akar kearifan lokal.
Tema Hari Santri tahun ini, “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Dunia,” merupakan panggilan bagi seluruh pesantren untuk melangkah ke panggung global. Dengan ribuan alumni yang kini berkiprah di dalam dan luar negeri, As’adiyah telah menunjukkan bahwa pesantren bisa menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, antara lokalitas dan globalitas.
Dari Sengkang, nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin mengalir melintasi batas-batas geografis. As’adiyah menjadi bukti bahwa cahaya dari Timur bukan hanya menerangi Nusantara, tetapi juga menyinari peradaban dunia.
Hari Santri bukan hanya peringatan sejarah, melainkan momentum reflektif untuk menegaskan peran santri sebagai penjaga ilmu, iman, dan kemerdekaan. Dari As’adiyah, cahaya keilmuan dan spiritualitas itu terus bersinar, menembus zaman, menerangi negeri, dan menuntun bangsa menuju peradaban yang beradab.
Santri mengawal Indonesia merdeka bukan dengan teriakan, melainkan dengan karya. Dan dari Wajo, cahaya itu tak pernah padam. Cahaya dari Timur, untuk peradaban dunia.(r)
















