Di sisi lain, pemerintah daerah juga menilai festival memiliki fungsi edukatif. Masyarakat dapat melihat langsung ragam potensi lokal, sementara pelaku UMKM memperoleh masukan terkait tren pasar, standardisasi produk, hingga peluang kolaborasi.
“Masyarakat perlu disadarkan bahwa potensi kita besar. Tapi tanpa pemahaman tentang kualitas dan pasar, potensi itu tidak akan menjadi nilai ekonomi,” ujar Andi Rosman.
Komitmen Bupati untuk membawa produk Wajo ke pasar internasional bukan sekadar retorika.
Pemerintah daerah tengah menyiapkan sejumlah program lanjutan yang mencakup penguatan branding produk lokal, pengembangan kualitas kemasan, pendampingan sertifikasi, dan pembukaan akses kemitraan dengan pelaku industri nasional.
Andi Rosman menilai bahwa saat ini permintaan pasar global terhadap produk berbasis budaya dan natural dari daerah semakin meningkat. Hal tersebut menjadi momentum bagi Wajo, yang memiliki kekayaan produk tenun, kuliner, hingga kerajinan berbasis sumber daya lokal.
“Peluangnya besar. Yang kita lakukan hari ini adalah membangun fondasi agar UMKM Wajo siap masuk ke pasar global. Dari festival ini, kita perkuat visibilitas dan daya saingnya,” jelasnya.
Keberadaan festival UMKM dalam lima tahun terakhir telah memberikan kontribusi pada peningkatan aktivitas ekonomi lokal. Namun tahun 2025 dinilai menjadi titik transisi karena pemerintah mulai memfokuskan festival sebagai gerbang ekspansi pasar.
Bagi Karang Taruna Wajo sebagai penyelenggara, festival ini juga menjadi bukti peran pemuda dalam pembangunan ekonomi daerah. Kolaborasi pemerintah dan kelompok pemuda menjadi salah satu nilai tambah dalam penguatan UMKM.
Menutup acara pembukaan, Andi Rosman menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat.
“Alhamdulillah, kolaborasi ini membuktikan bahwa kita dapat berjalan bersama untuk memajukan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ucapnya. (Ddy-Adv)
















