Home / Artikel

Selasa, 29 November 2022 - 08:18 WIB

MENJALANI WAKTU

Hendry Ch Bangun

Hendry Ch Bangun

Catatan Hendry Ch Bangun

MEDIASINERGI CO CIPUTAT — Negara kita tergolong warganya paling kecanduan media sosial. Dari data laporan digital Indonesia tahun 2022, dari 204 juta pengguna internet, sebanyak 191,4 juta orang adalah pengguna aktif media sosial atau 68,9 persen dari total penduduk yang berjumlah 277 juta.

Menurut laporan, waktu yang dihabiskan dalam satu hari, untuk warga yang berusia 16-64 tahun mencapai 3 jam 17 menit rata-rata untuk berselancar di media sosial. Sudah jauh lebih lama dibandingkan menonton televisi siaran ataupun streaming yang hanya 2 jam 50 menit, apalagi dengan melahap media cetak seperti suratkabar dan majalah (termasuk versi online-nya) yang hanya 1 jam dan 47 menit. Yang paling sedikit di antara media massa adalah siaran radio yang hanya dinikmati selama 37 menit.

Apa boleh buat, para pengelola media massa tentu harus pandai meramu menu informasinya, mana yang disiarkan di media massa, mana yang diluncurkan di media sosial, agar pelanggannya tidak lari. Upaya memadukan dua sisi penyajian informasi ini tidak mudah, di satu sisi tetap menjaga kualitas jurnalistik, setia pada visi misi, di sisi lain ingin agar beritanya dilirik kalangan muda pengguna medsos agar kliknya tinggi. Ada beberapa contoh sukses tetapi tidak sedikit yang terseok-seok dan terus mencari rumus terbaik.

Baca Juga:  Perlunya Puasa Arafah di Laksanakan Sehari Sebelum Wukuf

Perkembangan teknologi informasi membuat perubahan perilaku masyarakat adalah sesuatu yang tidak terhindarkan, semuanya tersaji begitu saja entah kita sadari atau tidak, kita suka atau tidak suka. Penetrasi internet ke rumah membuat kita justru harus mampu mengelola waktu dan kalau perlu membuat batasan ketat agar tidak terseret pada hal-hal yang tidak perlu.

Big data dan kecerdasan buatan membuat keinginan kita mudah terbaca produsen informasi khususnya yang berbau komersial. Kalau tidak mampu menjadi “gate keeper” habislah kita terombang-ambing dalam gelombang informasi, yang barangkali kebanyakan tidak memberi manfaat, berjam-jam membuang waktu.

Dalam laporan yang sama disebutkan, tujuan pertama menggunakan internet adalah mencari informasi, sebanyak 80,1 %. Kemudian sebanyak 72,9% menjadikan internet sebagai tempat untuk mencari ide dan inspirasi, tidak mengherankan karena di internet apa saja bisa ditemukan mulai dari urusan bisnis, percintaan, produk kreatif, masalah keagamaan, sampai lagu, film, untuk menyegarkan pikiran. Urutan ketiga, sebanyak 68,2 persen, konsumen menggunakan internet agar tetap terhubung dengan keluarga, teman sekolah, teman kantor, yang banyak dimanfaatkan untuk menjalin kegiatan sosial kemasyarakatan.

Nah yang keempat, sebanyak 63,4 persen pengguna internet adalah orang yang “kelebihan” waktu, tidak ada pekerjaan, sehingga betul-betul berselancar tanpa tujuan yang pasti. Buka sana, buka sini, tergantung mood. Kalau ada yang sedang viral, segera masuk internet, supaya tidak ketinggalan dari tetangga atau teman gossip. Kelompok ini pula yang naga-naganya, paling banyak menanggapi apapun yang sedang menjadi “hot issue”, komentar sana, komentar sini, sehingga kadang-kadang terpeleset dan bisa kenal Pasal 27 dan Pasal 28 UU ITE.

Baca Juga:  Tragedi Kanjuruhan dan Awal Kompetisi Sepakbola Indonesia

Yang kelima, sebanyak 61,4 % menggunakan internet untuk follow-up berita yang sedang berlangsung, apakah karena sudah menonton di televisi, mendapatkan informasi dari teman di grup pertemanan, keluarga, dll. Misalnya saja soal bencana gempa di Cianjur, perkembangan tim favorit di Piala Dunia, atau sidang kasus Fredy Sambo. Dengan jumlah sebanyak ini sebenarnya media siber dapat memanfaatkannya untuk memasok informasi yang sedang dibutuhkan para peselancar internet ini. Tinggal cek tren yang sedang viral, da nisi secepat mungkin. ***

Time flies, kata orang Inggris. Waktu berjalan, kata orang Indonesia. Jelas sekali beda persepsi di antara kedua bangsa ini tentang waktu, yang satu menganggapnya cepat berlalu karena terbang yang lainnya melihat lebih lamban, seperti berjalan saja. Siapapun tahu betapa pentingnya waktu, yang datang hanya sekali dan setelah itu pergi. Detik ini beda dengan detik mendatang meski ada di menit yang sama dan jam yang sama, hari ini beda dengan hari esok meskipun minggu dan bulannya sama.

Share :

Baca Juga

Artikel

Dua Satkamling Di Soppeng Disambangi Tim Dit Binmas Polda Sulsel

Advertorial

Dishub Makassar Hadiri FGD Ketiga Penyusunan Naskah Akademik Ranperda Kota Sehat

Artikel

Refleksi Sumpah Pemuda: Musmuliadi Ingatkan Pemerintah Wajo Soal Janji Program Muda Milenial Maradeka

Artikel

Cahaya dari Timur: Refleksi Hari Santri dan Warisan Keilmuan As’adiyah

Artikel

Musmuliadi: Melecehkan Pesantren Sama Saja Merendahkan Akar Moral Bangsa

Artikel

PPENTINGNYÀ PERAN dan FUNGSI MEDIA

Advertorial

Menyulam Harapan di Bumi Lamadukkelleng: Jejak 100 Hari Pemerintahan Andi Rosman–Baso Rakhmanuddin

Artikel

Pendidikan dan Peran Perempuan Diera Globalisi