Oleh Hendry Ch Bangun
MEDIASINERGI.CO, JAKARTA – Menjadi atlet professional itu tidak mudah. Tetapi kita beruntung masih bisa menyaksikannya, untuk memetik pelajaran dari mereka. Mereka bukan hanya pekerja keras, tapi pekerja cerdas. Bukan hanya tekun, tetapi egois dalam mencapai targetnya. Dia melakukan persiapan sebaik mungkin agar berhasil. Dan tidak mau gagal, tidak ada sebersit kata menyerah dalam kamus mereka. Walau kadang, sebesar apapun upayanya, nasib bisa tidak sejalan dengan usaha.
Saya terkagum-kagum dengan Rafael Nadal, yang merebut trofi grandslam Perancis Terbuka ke-14nya, tanggal 5 Juni lalu di Rolland Garros. Melengkapi dua gelar Wimbledon, empat gelar AS Terbuka, dan dua Australia Terbuka.
Padahal Maret lalu dia dikira sudah habis karena kalah dan agak cedera. Dan usianya sudah 36 tahun, relatif “tua” untuk ukuran atlet di jalur cepat. Tapi dia mampu merawat cedera, memulihkan stamina, dan bersiap sebaik-baiknya. Dan menang, 6-3, 6-3, 6-0, atas Casper Ruud, yang berusia 12 tahun lebih muda!
Dia menjadi peraih grandslam terbanyak dalam sejarah, mengalahkan dua pesaingnya Roger Federer dan Novak Djokovic.
Etos petenis profesioanal memang terkenal. Saya beruntung pernah meliput AS Terbuka dan Australia Terbuka dan melihat bagaimana kiprah mereka. Lapangan latihan sebelum atau setelah bermain tidak pernah sepi, penuh dengan pemain. Steffi Graf, bisa berlatih dua jam sehabis bertanding, seperti tidak ada lelahnya. Dituntun pelatihnya, dia memulihkan tenaga, memperbaiki kekurangan. Graf menjadi satu-satunya petenis yang meraih Golden Slam, yakni meraih medali emas Olimpiade Seoul 1988 sekaligus grandslam di Australia Terbuka, Perancis Terbuka, Wimbledon, dan AS Terbuka pada tahun yang sama.
Soal latihan ini, Ardy B Wiranata dianggap sebagai pemain bulutangkis Indonesia yang berlatih paling spartan. Sebelum latihan resmi dia sudah memulainya sendiri sekitar satu jam sebelumnya, sehingga ketika masuk sesi resmi, dia “masuk” dengan cepat sementara temannya masih melakukan pemanasan.
Maka ketika bertanding, staminanya selalu paling baik. Tidak pernah kelihatan habis tenaga. Tidak ada capeknya. Di masa jayanya, begitu pula Susi Susanti. Dan tentu saja kita mengingat bagaimana Rudy Hartono bekerja keras luar biasa untuk dapat menjadi juara All England sebanyak delapan kali, prestasi yang tidak pernah dicapai siapapun.
Tentu saja di masa keemasan bulutangkis Indonesia, sudah ada pemain malas yang berlatih pas-pasan, dan kurang professional dalam arti tidak menghargai statusnya sebagai pemain yang latihannya ditanggung asosiasi atau negara. Proses tidak pernah membohongi hasil, mereka yang bersiap lebih baik umumnya memberikan hasil lebih baik. Walau tadi, kalau kemampuan sudah setara kadang ada momen penentu yang menempatkan seorang menjadi juara dan seorang harus puas sebagai runner-up. Itulah yang mungkin menggambarkan kemenangan Alan Budikusuma atas Ardy B Wiranata di final Olimpiade Barcelona.
***
Di televisi kita menyaksikan bagaimanan pemain-pemain dengan gaji milyaran rupiah per minggu, tetap ikut latihan rutin di lapangan klub sepakbolanya. Latihan dribble, menembak ke gawang, sampai simulasi tanding diikuti serius. Bukan hanya karena mereka adalah bagian satu tim, tetapi tanggungjawab pribadi agar terus mengasah ketrampilan dan menyesuaikan diri dengan taktik pelatihnya.
Pelajaran penting di sini, sebesar apapun Anda, seharum apapun namanya di masyarakat penggemar, di lapangan dia hanyalah seorang pembelajar yang terus memperbaiki diri, agar selalu berhasil dan mencapai hasil tertinggi. Atau dia hanyalah anggota tim yang harus berusaha agar tidak menjadi titik lemah timnya, tetapi justru menjadi “pemenang” untuk mendorong motivasi teman-temannya. Tidak ada istirahat dalam berlatih, kecuali memang cuti atau musim libur yang telah ditetapkan.
Kita pernah mendengar bagaimana David Beckham yang terkenal dengan tendangan pisangnya, berlatih ratusan kali menendang bola di luar jam latihannya. Itu kemudian menjadi pembeda dia dengan pemain lain baik ketika masih di Manchester United maupun di Real Madrid. Dan masih dikenang penggemar sepakbola meski dia sudah lama menggantung sepatu.
















