Home / Artikel

Minggu, 19 Juni 2022 - 10:04 WIB

Tak Mudah Menjadi Atlet Profesional

Profesional dikaitkan juga disiplin makan. Harus ada kesadaran diri tentang asupan makanan ke tubuh agar sesuai dengan kebutuhan fisiknya. Bob Hasan almarhum ketika menjabat Ketua Umum PASI sering mengeluh soal ini.”Di pelatnas disediakan daging, ikan, sayuran, makanan bergizi, malah senangnya makan bakso yang hanya bikin kenyang tapi tidak bergizi,” katanya. Daging jelas menambah stamina dan daya tahan dalam bertanding, harus diasup secara teratur dengan porsi tertentu, tetapi mungkin karena bosan, akhirnya yang disantap apa yang disukai, bukan diperlukan tubuh. Atlet tidak disiplin dengan aturan yang sudah disiapkan soal makanan. Pastilah besar pengaruhnya pada penampilan mereka saat bertanding.

Soal ini, saat masih aktif meliput juga menjadi salah satu keprihatinan saya. Beberapa pemain kita pada waktu itu membawa rice cooker kalau ke luar negeri, karena merasa tidak kenyang kalau tidak makan nasi. Tidak pernah lupa juga bawa mie instan sebagai pelengkap, kadang menjadi teman makan, karbo bercampur karbo. Meskipun uang saku cukup, tidak sedikit yang ngirit, tidak mau membeli daging untuk dimasak, atau beli lauk berbahan daging di restoran, untuk menjaga stamina. Beruntung bila ada pemain yang membawa rendang atau dendeng, yang lumayan bergizi.

Jajan di restoran luar? Hanya satu dua yang mau keluar uang. Kecuali ada orang yang traktir. Makan enak biasanya dialami waktu ada welcome party dari panitia atau undangan selamat datang dari kedutaan atau konsulat Indonesia di tempat.

Ketika saya meliput keikutsertaan Yayuk Basuki mengikuti tiga turnamen di Amerika Serikat, yakni di Schenentady, Washington DC, New York, soal gizi ini tidak lagi persoalan bagi petenis. Karena postur olahraganya sudah glamour, pelayanan bagi pemain di hotel, sangat mewah. Apa saja ada. Tidak heran juga karena perputaran uangnya juga besar. Kalah di babak pertama grandslam Wimbledon mendapat hadiah uangnya sudah lebih besar dari juara pertama di All England, jadi memang sulit membandingkan kelas tenis dengan bulutangkis, dalam semua hal.

Baca Juga:  Pengelolaan Lahan PWI Sulsel Sesuai Legal Standing

Gizi termasuk masalah elementer, kalau ini belum selesai, olahraga Indonesia akan sulit maju. Induk organisasi atau pemerintah harus memberi perhatian khusus. Untuk atlet kelas dunia, layanan juga harus kelas dunia. Standarnya tidak boleh dikurangi atas alasan apapun.

***

Satu juga yang menjadi ciri atlet professional adalah semangat pantang menyerah. Di twitter sampai hari ini masih ada momen-momen kemenangan Real Madrid sampai ke final Piala Champions. Meskipun tertinggal dari lawan-lawannya sampai menit terakhir, mulai dari Paris Saint Germain, Chelsea, dan kemudian Machester City, pemain Real Madrid tidak patah semangat. Mereka terus berjuang, dan ketika waktu hampir habis, mereka membalikkan keadaan dan menang. Mental juara, begitu gelar yang diberikan kepada pemain, karena tidak berhenti berusaha sebelum peluit akhir berbunyi. Kalah atau menang menjadi urusan nomer dua.

Saat masih meliput dan mendapat tugas juga untuk mengambil gambar dengan kamera, saat mengambil close up, saya bisa menyaksikan wajah mana yang tampak bersemangat dan mana wajah yang seperti mau menyerah. Pemain yang melihat lawannya seperti tak bersemangat, menunjukkan kesusahannya di lapangan, akan memberikan tambahan semangat. Sebaliknya kalau terus berwajah garang, pantang menyerah—meski tenaga sudah terkuras habis—justru menakutkan lawan. Wajah itu selalu diperlihatkan Susi Susanti saat bertanding, sehingga saat masuk lapangan saja lawan sudah keder duluan.

Rahasia inilah yang ditunjukkan Zlatan Ibrahimovic, setelah AC Milan menjadi juara Liga Seri A Italia. Berbagai cedera, dan memaksa dia menggunakan penghilang rasa sakit, tidak menyurutkannya untuk bermain menyemangati yuniornya. Dia bahkan mampu mencetak delapan gol meski hanya tampil 27 kali dari seluruh pertandingan, yang dilakoni AC Milan. Sudah berusia 40 tahun, dia dianggap berperan besar membawa AC Milan menjadi juara 2021 / 2022 setelah puasa gelar setelah juara di tahun 2010 / 2011. Orang terkejut ketika Ibrahimovic membuka rahasia cederanya yang parah.

Baca Juga:  Setelah Kompeten, Apa?

Saya tidak tahu apa penyebab pemain bulutangkis Indonesia tidak ada yang masuk ke semifinal turnamen Indonesia Terbuka yang berlangsung di Jakarta minggu ini. Yang pertama dalam 40 tahun, konon. Apakah daya juang? Faktor gizi? Disiplin, tentu para pelatih yang memahaminya. Saya tidak melihat analisa yang kritis di media massa, seperti dilakukan wartawan di tahun 1980-an atau 1990-an. Yang ada hanya liputan pertandingan dan komentar dari pemain, pelatih, atau pengamat yang sekadar melihat dari permukaan.

Wartawan yang professional harus memahami sisi dalam dan sisi luar dari pemain, pelatnas, dan sistem pelatihan serta lingkungan yang meliputi olahraga dan atlet kelas dunia Indonesia. Hanya dengan begitu dia dapat memberikan evaluasi kritis melalui opini di medianya, media massa atau media sosial miliknya, untuk meningkatkan kualitas olahraga kita.

Wartawan olahraga harus mengerti kedudukannya yang unik dibanding di negara lain. Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI adalah salah satu pendiri Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), karena itu dia menjadi anggota KONI, sehingga peran wartawan tidak sekadar meliput, tetapi harus berperan aktif membina olahraga di Tanah Air.

Jangan membiarkan diri larut dalam arus dan mendiamkan kekurangan yang ada. Melalui media massa masing-masing, mari perbanyak kritik dan saran, perbanyak masukan dan usulan solutif, demi kejayaan olahraga Indonesia.***

Share :

Baca Juga

Artikel

Dua Satkamling Di Soppeng Disambangi Tim Dit Binmas Polda Sulsel

Advertorial

Dishub Makassar Hadiri FGD Ketiga Penyusunan Naskah Akademik Ranperda Kota Sehat

Artikel

Refleksi Sumpah Pemuda: Musmuliadi Ingatkan Pemerintah Wajo Soal Janji Program Muda Milenial Maradeka

Artikel

Cahaya dari Timur: Refleksi Hari Santri dan Warisan Keilmuan As’adiyah

Artikel

Musmuliadi: Melecehkan Pesantren Sama Saja Merendahkan Akar Moral Bangsa

Artikel

PPENTINGNYÀ PERAN dan FUNGSI MEDIA

Advertorial

Menyulam Harapan di Bumi Lamadukkelleng: Jejak 100 Hari Pemerintahan Andi Rosman–Baso Rakhmanuddin

Artikel

Pendidikan dan Peran Perempuan Diera Globalisi