“Produksi cabai perktare itu sekitar 8-10 ton, sehingga penghasilan kotor pertanaman cabai petani mencapai Rp400 juta – Rp700 juta rupiah per hektar untuk sekali panen. Ini tentu menjadi spirit bagi petani untuk terus mengembangkan pertanaman cabai”, ucapnya.
Keberhasilan petani cabai di tengah El- Nino ini, Kata Amran Mahmud, menjadi salah satu upaya menekan laju inflasi di Wajo dan Sulsel sesuai program prioritas Pj Gubernur Sulsel.
“Selain Desa Limporilau, ada beberapa lokasi pertanaman di Desa Lautang dan Ongkoe serta Kelurahan Malakke, Belawa dan Macero di Kecamatan Belawa. Termasuk Desa Lowa Kecamatan Tanasitolo yang telah kita bantu,” tambahnya.
Sementara, salah seorang petani cabai, Sinardin yang juga merupakan ketua kelompok tani setempat menyampaikan rasa bahagia dan terima kasihnya kepada Pemkab Wajo, khususnya Bupati Wajo dan Wakil Bupati yang telah merespon dengan cepat dan membantu menyelamatkan tanaman cabai petani.
“Perhatian dan bantuan Bapak sangat bermanfaat dan datang pada saat petani membutuhkannya, karena betul-betul tanaman cabai kami sangat membutuhkan air pada saat itu sementara kondisi sungai sedang mengalami kekeringan. Alhamdulillah bantuan pompa air melalui BPBD tersebut sangat membantu kami,” ucapnya.
Apalagi, lanjutnya, harga saat itu sangat fantastis rata-rata pembelian di petani di kisaran Rp50ribu-Rp70ribu. “Ini tentu menjadi kesyukuran bagi kami yang bisa menikmati dan merasakan kepuasan dengan harga itu. Sekali lagi terima kasih Bapak Bupati dan Bapak Wakil Bupati,” ucapnya.
Senada, Kepala Desa Limporilau, Abdul Rahim juga menyampaikan terima kasih atas perhatian dan bantuan dari Pemkab Wajo menyelamatkan tanaman cabai petani. “Kami bisa tetap panen cabai di tengah kekeringan berkat bantuan Bapak Bupati dan Bapak Wakil Bupati. Kami menyampaikan terima kasih untuk itu, apalagi harga saat itu tergolong sangat tinggi,” pungkasnya.(Saf)
Editor: Manaf Rachman
















