Disiplin ASN (Aparatur Sipil Negara) diperketat, pelayanan publik disederhanakan, meski roda mutasi belum bergulir, penataan birokrasi mulai menunjukkan arah.
Langkah awal ditandai dengan penunjukan pelaksana tugas untuk mengisi kekosongan pada jabatan tinggi pratama, sebagai upaya menjaga kesinambungan roda pemerintahan.
Kota Sengkang, sebagai pusat denyut kabupaten, juga mulai disentuh.
Banjir yang kerap menggenangi kini mulai ditanggulangi lewat penataan ulang drainase dan pengelolaan tata ruang yang lebih bijaksana.
Perubahan kecil mulai dirasakan sebuah isyarat bahwa kerja nyata tak hanya janji, tapi kenyataan yang bisa disentuh.
Tak berhenti di situ, Pemerintah Daerah juga menyusun peta jalan pembangunan lima tahun ke depan.
Disusun tak hanya dari meja rapat, tapi juga dari ruang-ruang dialog bersama tokoh masyarakat, pemuda, dan masyarakat akar rumput. Karena bagi Rosman–Baso, membangun Wajo adalah kerja kolektif, bukan proyek elite.
Laporan 100 hari ini pun menjadi refleksi awal, bahwa pemerintahan ini hadir bukan sekadar menggugurkan program, tetapi menumbuhkan harapan.
Di balik angka dan data, ada upaya, ada ketulusan, dan ada cita yang dibangun dengan keyakinan.
Hari ini (red Jum’at), langkah awal telah tertoreh. Fondasi telah diletakkan. Dan Kabupaten Wajo, dengan semangat baru yang mengalir dari pemimpinnya, bersiap menjemput masa depan yang lebih adil, maju, dan bermartabat. SALAMA’KI TO PADA SALAMA “BAMPAI SALENG”(*)
















