MEDIASINERGI.CO
Di negeri yang mengaku berlandaskan Pancasila dan menjunjung tinggi nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, kita justru menyaksikan fenomena yang semakin mengkhawatirkan, lahirnya banyak politisi yang lebih memilih menjadi follower daripada menjadi pemimpin. Mereka hadir di panggung kekuasaan bukan sebagai penentu arah, melainkan sebagai pengikut arus. Mereka tidak lagi berdiri tegak di atas keyakinan, melainkan sibuk membaca arah angin demi menyelamatkan posisi dan kepentingannya sendiri.
Politikus semacam ini bukanlah pemimpin sejati. Mereka adalah politisi bermental follower, yang setiap langkah politiknya didasarkan pada rasa takut. Takut kehilangan jabatan. Takut kehilangan fasilitas. Takut kehilangan akses terhadap kekuasaan. Takut miskin. Bahkan takut menghadapi risiko perjuangan yang menjadi konsekuensi dari sebuah sikap politik yang benar.
Akibatnya, yang lahir bukan keberanian moral, melainkan budaya menjilat. Yang tumbuh bukan sikap kenegarawanan, melainkan oportunisme. Mereka lebih sibuk menjaga kedekatan dengan penguasa daripada menjaga amanah rakyat yang telah memilihnya.
Padahal sejarah mengajarkan bahwa perubahan besar selalu lahir dari orang-orang yang berani melawan rasa takut. Para pendiri bangsa ini tidak memiliki jaminan kemenangan ketika melawan penjajahan. Mereka tidak memiliki kekayaan melimpah. Mereka tidak memiliki kekuasaan. Bahkan nyawa mereka setiap saat terancam. Namun mereka tetap berdiri tegak karena yang mereka takutkan hanyalah Tuhan Yang Maha Kuasa.
Keberanian itulah yang kini semakin langka
Banyak politisi hari ini terlihat gagah ketika berada di belakang mikrofon, tetapi menjadi sangat lemah ketika berhadapan dengan kekuasaan. Mereka lantang mengkritik saat berada di luar lingkaran kekuasaan, namun mendadak diam ketika sudah memperoleh jabatan. Mereka berbicara tentang idealisme saat kampanye, tetapi melupakannya setelah mendapatkan kursi yang diinginkan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian politikus kita telah kehilangan kemerdekaan batinnya. Mereka tidak lagi menjadi manusia merdeka. Mereka menjadi tawanan ketakutan yang mereka ciptakan sendiri.
Takut miskin adalah salah satu ketakutan terbesar yang mengendalikan perilaku politik. Karena takut kehilangan kenyamanan hidup, mereka rela menggadaikan prinsip. Karena takut kehilangan sumber penghasilan, mereka bersedia menutup mata terhadap ketidakadilan. Padahal rezeki bukan berasal dari jabatan, bukan berasal dari partai politik, bukan pula berasal dari para oligarki. Rezeki datang dari Allah SWT yang menguasai langit dan bumi.
Begitu pula ketakutan kehilangan jabatan. Seolah-olah jabatan adalah segala-galanya. Seolah-olah hidup akan berakhir ketika kursi kekuasaan dicabut. Padahal jabatan hanyalah titipan sementara. Hari ini seseorang menjadi menteri, gubernur, anggota DPR, atau pejabat tinggi negara. Besok ia bisa menjadi rakyat biasa. Itulah hukum kehidupan yang tidak bisa ditolak siapa pun.
















