“Maaf, Pak Siregar. Saya tidak bermaksud menguji, hanya ingin mengetahui seperti apa jawaban Bapak terhadap pertanyaan ini. Soalnya, saya tidak memperoleh jawaban yang memuaskan ketika pertanyaan ini diajukan kepada Pak Harmoko ketika menjadi Ketua PWI Pusat saat berbicara di Ujungpandang,” saya menyela yang disambut tertawa oleh teman-teman peserta yang lain.
Pada sesi acara rehat kopi, Pak RH Siregar pun saya dekati dan menjelaskan rincian dan contoh soal yang menjadi pemicu hingga saya mengajukan pertanyaan itu kepada Pak Harmoko.
Kecelakaan Mobil wartawan
Kenangan kedua dengan Pak Harmoko setelah dia menjabat Menteri Penerangan. Kejadiannya sekitar tahun 1984, setahun setelah Harmoko dilantik sebagai Menteri Penerangan. Gebrakan yang dilakukannya adalah kegiatan Safari Ramadan keliling daerah. Arah pertama perjalanan jarak jauhnya itu dia lakukan ke wilayah Sumatera. Dari ujung selatan hingga utara menggunakan kendaraan darat. Dia mampir di beberapa ibu kota provinsi untuk bertemu rakyat dan pemerintah daerah serta mendengar suara rakyat di pedesaan.
Giliran kegiatan Safari Ramadan dilakukan di Sulawesi, Pak Harmoko memulainya dari Manado. Tentu dengan naik pesawat dari Jakarta ke Manado. Dari Manado dia secara estafet menggunakan kendaraan darat menuju ke selatan. Tugas setiap Gubernur-lah menjemput Menteri di perbatasan provinsi.
Begitulah saya bersama beberapa orang wartawan berangkat dari Makassar menuju Mangkutana, di perbatasan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah menjemput Menteri Penerangan. Saya menggunakan mobil Hiace Kanwil Deppen Sulsel warna biru meninggalkan Ujungpandang menuju Luwu. Saya masih ingat, di atas mobil, duduk di baris depan, di samping pengemudi Arifin Siga dari LKBN Antara. Di kursi tengah, saya dengan Taufiq Kaharuddin, alm. (LKBN Antara) dan di kursi belakang ada Aminullah Makmun dari Harian Fajar dan saya lupa lagi seorang lainnya.
Setelah melintasi cabang tiga Rappang-Pangkajene (SPBU), terjadi tabrakan beruntun antara kendaraan yang kami tumpangi dengan salah satu kendaraan di depan. Karena pengemudi mengerem mendadak, saya yang tertidur pulas, langsung ambruk ke lantai mobil. Setelah diperiksa kondisi kendaraan, ternyata tidak ada kerusakan yang berarti. Kendaraan masih bergerak lagi.
Kami tiba di Mangkutana sudah sore. Saya tidak sempat mengabadikan penyambutan di perbatasan karena berada di kendaraan yang agak jauh di belakang. Rombongan Menteri didampingi Pak Amir, panggilan akrab Prof. Amiruddin, sudah bergerak ke arah Kota Mangkutana saat kami turun dari kendaraan.
Malam hari itu, Menteri Harmoko bertemu dengan Kelompok Pendengar Pembaca dan Pirsawan (Kelompencapir) di salah satu desa transmigrasi di Mangkutana atau Masamba. Saya sudah lupa karena kami tiba di lokasi acara malam hari.
Keesokan harinya, konvoi panjang rombongan yang dipandu Patroli Pengawal Nurdin yang menggunakan mobil Volvo meluncur masuk Kota Palopo. Di rumah jabatan Bupati Luwu, Harmoko berbicara lagi. Usai berbicara, rombongan meluncur ke selatan. Di Masjid Raya Siwa, rombongan berhenti lagi untuk menunaikan salat Zuhur jama’ dengan Ashar.
Mobil meluncur lagi. Di sini posisi duduk di kursi depan berubah. Aminullah Makmun yang lebih dulu naik ke mobil meng-“kudeta” posisi Arifin Siga di samping sopir yang membuat wartawan LKBN Antara itu.wajahnya tampak kurang nyaman. Dia diam sepanjang perjalanan. Apalagi mobil yang kami tumpangi, setiap tikungan bannya selalu menyisakan bunyi tikus. Saya curiga sopir terus main rem dan kurang piawai mengatur irama laju mobil dalam kecepatan tinggi ketika membelok dalam posisi konvoi.
Perasaan saya agak nyaman ketika jalan lurus. Tetapi jika ada tikungan, bunyi tikus ban mobil terdengar lagi. Menjelang cabang tiga dari arah Tarumpakae, Paria, tepatnya di Sempangnge, – ke kanan ke arah Anabanua, Sidrap dan Pare dan ke kiri ke Kota Sengkang – jalan menurun disertai tikungan agak tajam. Sopir tampaknya tidak menguasai medan, jalan. Konon baru kali itu dia membawa mobil ke luar kota jarak jauh. Tikungan ini di sebelah kanan jurang, di sebelah kiri tebing batu. Mobil tidak terkendali dan langsung menghantam tebing batu. Kaca depan mobil Hiace pecah. Aminullah Makmun yang duduk di dekat pintu sebelah kiri teriris sebagian daging tangan kirinya. Dia dicopot ke luar dari badan mobil melalui bagian depan mobil yang kacanya sudah pecah. Saya dan Taufiq
Kaharuddin terpaksa keluar melalui jendela mobil sebelah kanan. Teman lain di belakang juga mengikuti jejak saya.
Berita kecelakaan mobil wartawan ternyata sampai ke telinga Pak Amir yang bersama Pak Harmoko.
“Tolong cek kendaraan wartawan, ada Dahlan di situ,” pesan Pak Amir kepada Nurdin yang duduk di belakang kemudi mobil Patwal yang segera balik kanan ke arah mobil kami, seperti dikisahkan Faisal, ajudan Pak Amir setelah saya tiba di Watampone, keesokan harinya.
Akhirnya, saya dan teman-teman wartawan yang lain, kecuali Aminullah Makmun yang langsung dilarikan ke RSUD Dadi Ujungpandang, menumpang mobil lain ke Watampone.
“Pak Dahlan, langsung lapor ke Bapak (Pak Amir), tadi dicari waktu dengar mobil wartawan kecelakaan,” kata Faisal, ajudan Pak Amir, begitu melihat saya dan teman-teman wartawan muncul di halaman rumah jabatan bupati Bone.
Faisal pun mengantar saya menuju ruang Pak Amir bermalam.
“Bagaimana keadaannya Dahlan, “ tanya Pak Amir saat melihat saya masuk.
“Tidak apa-apa, Pak Gub. Hanya ada teman dari Fajar, Aminullah Makmun yang cedera dan dibawa langsung ke Ujungpandang. Rupanya, sopirnya kurang menguasai jalan karena pertama kali ke luar kota membawa kendaraan,” saya menjelaskan.
Saya pun menjelaskan secara singkat kejadian itu, kemudian mohon diri. Pak Amir juga berpesan agar memberitahu sopir kendaraannya untuk lebih hati-hati kalau sedang bergerak konvoi karena kendaraan bergerak dalam kecepatan tinggi.
Malam keesokan harinya, seperti biasa, saya tidak langsung pulang ke rumah, tetapi masuk kantor dan membuat berita kunjungan Menteri ini, termasuk kecelakaan mobil wartawan yang nyaris merenggut jiwa itu.
Di kantor, Kepala Desk Daerah almarhum Harun Rasyid menyodorkan selembar foto berwarna Saya sambil memegang sepatu dan tas berisi kamera di tangan sedang berusaha melewati jendela keluar dari mobil Hiace yang nahas itu, Rupanya,Pak M.Iskandar, wartawan “PR” di Sengkang sempat memotret momen dramartis ini.
Akan halnya rekan Aminullah Makmun, ternyata di RSUD Dadi dirawat di paviliun, tempat istri saya bertugas, Istri menjelaskan, daging yang hilang di tangan kiri rekan itu terpaksa “ditempel” dengan “memindahkan” sebagian kecil daging betisnya. Alamaaaak…..!!! (M.Dahlan Abubakar).
















